CryptoHarian

4 Alasan Harga Bitcoin Turun Rp 10 Juta 21 May 2020

Harga Bitcoin (BTC) turun dari Rp 143 juta ke Rp 133 juta di Indodax. Ini terjadi karena Bitcoin tidak bisa menembus Rp 150 juta dalam beberapa minggu.

Penurunan harga jangka pendek yang tiba- tiba pada umumnya dapat dikaitkan dengan empat faktor utama:

  1. Likuidasi di Bitmex
  2. Whale
  3. Penjualan Oleh Penambang
  4. Saham

1.Likuidasi di BitMEX

Kemarin, nilai jual senilai sekitar $ 80 juta dilikuidasi pada BitMEX. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar pedagang mengharapkan harga Bitcoin bisa menembus Rp 150 juta ($10.000) dalam waktu dekat.

Sebagai gantinya, harga Bitcoin ter-rejeksi dan bertetap di Rp 145 juta-an dengan aksi jual besar-besaran, membuat BTC turun menjadi sekitar Rp 137 juta.

Penurunan lebih lanjut ke Rp 133 juta terjadi karena para pedagang secara aktif bergerak untuk melakukan lindung nilai posisi mereka jika terjadi pullback yang dalam.

Secara teknikal, ada sedikit Resistance atau Support antara level Rp 115 juta-an hingga Rp 130 juta-an. Pedagang tampaknya berhati-hati tentang trend turun lebih lanjut karena struktur teknikal yang lemah masih ada diantara kisaran harga ini.

Baca Juga: 30 Cara Mendapatkan Uang Dari Internet Tanpa Modal Di Tahun 2020

Baca Juga: 15 Tips Trading Forex atau Cryptocurrency Untuk Pemula 2020

2.Whale Menggunakan Narasi Satoshi Palsu untuk Mencari Likuidasi

Seorang individu memindahkan 50 BTC dari dompet yang telah ada sejak Februari 2009.

50 BTC ditambang hanya satu bulan setelah blok Bitcoin pertama ditambang, menyebabkan orang berspekulasi apakah itu adalah Satoshi Nakamoto.

Tetapi, dari tidak adanya pola Patoshi hingga keberadaan beberapa penambang awal pada tahun 2009, hampir semua titik data menunjukkan pengirimnya bukanlah Satoshi.

Data yang kurang membuat Whale membangkitkan volatilitas di pasar.

Setelah transaksi dipublikasikan, harga Bitcoin turun 5% dengan segera. Whale kemungkinan besar menambah tekanan jual untuk mengambil likuiditas di level Support rendah.

Baca Juga: 27 Aplikasi Penghasil Pulsa dan Penghasil Uang Gratis Di 2020

Baca Juga: Cara Membeli Bitcoin Di Indonesia Dan Luar Negeri

3.Kenaikan dalam Penjualan Penambang

Menurut data dari ByteTree, Inventory Rolling Miner (MRI) berada pada 102,8%. Jika MRI melintasi sekitar 80%, itu berarti menunjukkan para penambang memilih untuk menjual BTC yang mereka tambang, daripada menahannya.

Pada 20 Mei, hari harga Bitcoin turun menjadi Rp 133 juta-an, persediaan bersih para penambang adalah -187 BTC. Mengingat bahwa penambang menambang hingga 900 BTC pasca-Halving, mereka menjual lebih banyak daripada yang ditambang pada hari itu.

Trend penambang baru-baru ini menjual lebih banyak BTC daripada sebelum Halving terjadi pada 11 Mei dapat menambah tekanan jual terus-menerus pada BTC dalam jangka pendek.

4.Pasar Saham Mungkin Turun

Walaupun banyak orang orang yang mengatakan pasar saham tidak ada korelasi dengan pasar cryptocurrency, tidak bisa dipungkiri bahwa ketika pasar saham naik, harga BTC juga naik dalam beberapa waktu.

Menurut techical strategists JP Morgan, indeks S&P 500 telah membentuk level resistance penting di sekitar 2.940 poin.

“Indeks S&P 500 telah membentuk bearish reservsal setelah bergerak ke level resistance di 2.900. Sementara pullback 2hari dari level resistance utama masih bisa berubah pada titik ini, setidaknya melanjutkan tren turun yang dimulai pada pertengahan April.”

BTC mungkin juga akan turun akibat hal ini.

Federal Reserve of Kansas City melaporkan bahwa Bitcoin memiliki 5% positif korelasi dengan S&P 500 pada tahun ini.

Kepada eksekutif BitMEX, Arthur Hayes, mengatakan:

“Apakah harga bisa kembali ke $3000? Pasti. Ketika SPX mengetest 2.000, kemungkinan semua kelas aset akan jatuh.

Ikuti Cryptoharian Di:
Septiady

Septiady

Penggemar Cryptocurrency dan Percaya Bahwa Informasi Harus Disebarluaskan Secara Transparan. Tidur, Makan dan Tulis

Add comment

Subscribe Untuk Berita Cryptocurrency Terbaru

Ikuti Kami Di:

Advertisement

Advertisement