Cryptoharian – Protokol perdagangan derivatif terdesentralisasi AFX Trade mengalami insiden keamanan besar setelah bridge lintas jaringan yang dioperasikannya dibobol. Dalam kejadian tersebut, sekitar 24,15 juta USDC terkuras dari kontrak bridge di jaringan Arbitrum.
Kabar AFX alami serangan terdeteksi perusahaan keamanan on-chain Blockaid pada Rabu, 22 Juli 2026 pukul 21.30 UTC atau Kamis, 23 Juli 2026 pukul 04.30 WIB.
Blockaid menegaskan serangan tersebut menyasar bridge yang dikelola AFX secara independen. Insiden ini bukan serangan terhadap native bridge resmi milik Arbitrum.
Salah satu pendiri Offchain Labs, Steven Goldfeder, juga memastikan transaksi mencurigakan berasal dari protokol pihak ketiga.
AFX Alami Serangan pada Bridge Sendiri
Berdasarkan analisis keamanan awal, serangan tidak diduga berasal dari celah pada logika smart contract. Pelaku diperkirakan berhasil menguasai private key yang dipakai validator bridge untuk menandatangani dan menyetujui transaksi penarikan.
Blockaid menyebut lima tanda tangan validator aktif digunakan untuk menyetujui penarikan 24.150.000 USDC. Jumlah tanda tangan itu memenuhi kuorum sekitar dua pertiga yang disyaratkan sistem.
Karena tanda tangan yang masuk valid secara kriptografis, smart contract menganggap permintaan penarikan tersebut sah. Kontrak kemudian melepaskan dana setelah melewati masa sanggah atau dispute period sekitar 200 detik.
Risiko Hot Key Jadi Sorotan
Insiden ini kembali menyoroti risiko penggunaan hot key pada infrastruktur penting. Hot key terus terhubung dengan sistem daring sehingga lebih mudah digunakan untuk operasional harian.
Namun, konektivitas tersebut juga membuat hot key memiliki paparan serangan lebih tinggi. Berbeda dengan cold key, penyimpanan luring biasanya lebih aman karena tidak selalu terhubung ke internet.
Dalam kasus bridge, private key validator menjadi komponen krusial. Jika kunci tersebut dikuasai pihak tidak berwenang, transaksi berbahaya bisa terlihat sah di mata smart contract.
Karena itu, kasus AFX alami serangan memperlihatkan bahwa audit smart contract saja tidak selalu cukup. Keamanan operasional, pengelolaan kunci, server penandatangan, dan kontrol akses internal juga menjadi bagian penting dari pertahanan protokol.
Dana Dipindah ke Ethereum
Setelah dana keluar dari bridge AFX, pelaku memindahkan USDC hasil curian dari jaringan Arbitrum menuju Ethereum. Dana tersebut kemudian ditukar menjadi sekitar 12.467 Ether atau ETH.
Nilai aset yang ditukar diperkirakan mendekati US$24 juta saat transaksi dilakukan. Dana hasil penukaran dilaporkan terkonsentrasi dalam satu dompet Ethereum.
Pergerakan aset tersebut masih dipantau perusahaan keamanan blockchain dan pelacak transaksi on-chain. Blockaid menyatakan telah berkoordinasi dengan tim Arbitrum untuk merespons kejadian, menghubungi pihak terdampak, dan membantu membatasi pergerakan dana.
Hingga laporan ini disusun, belum ada keterangan resmi dalam bahan yang menjelaskan bagaimana private key validator bisa jatuh ke tangan penyerang. Belum ada pula konfirmasi bahwa aset yang dicuri telah dibekukan, dikembalikan, atau berhasil dipulihkan.
Baca Juga: Hati-Hati, Ada Serangan Baru di Ekosistem Solana
Hampir Seluruh TVL AFX Terkuras
Serangan ini berdampak besar terhadap likuiditas AFX. Nilai yang dikuras dilaporkan mencakup hampir seluruh total value locked atau TVL protokol pada saat kejadian.
AFX Trade dikenal sebagai bursa derivatif terdesentralisasi yang menawarkan perdagangan kontrak perpetual. Protokol tersebut menggunakan USDC sebagai aset penyelesaian.
USDC merupakan stablecoin yang diterbitkan Circle dan dirancang mengikuti nilai dolar Amerika Serikat dengan perbandingan mendekati satu banding satu. Karena digunakan sebagai aset penyelesaian, terkurasnya USDC dari bridge berdampak langsung pada likuiditas protokol.
Cross-chain bridge sendiri berfungsi memindahkan representasi aset dari satu blockchain ke blockchain lain. Infrastruktur semacam ini biasanya menahan aset dalam kontrak pada jaringan asal, lalu menerbitkan atau melepaskan aset senilai sama di jaringan tujuan.
Karena menyimpan dana besar dan bergantung pada mekanisme otorisasi, bridge kerap menjadi target bernilai tinggi bagi pelaku kejahatan siber.
Native Bridge Arbitrum Tidak Terdampak
Pengguna perlu membedakan insiden AFX dari keamanan jaringan Arbitrum secara keseluruhan. Serangan terjadi pada bridge yang dioperasikan AFX, bukan pada native bridge Arbitrum.
Penegasan dari Blockaid dan Steven Goldfeder menunjukkan bahwa sumber transaksi mencurigakan berada pada protokol pihak ketiga. Dengan demikian, bahan yang tersedia tidak menunjukkan adanya kerentanan pada infrastruktur utama Arbitrum.
Insiden ini menjadi pengingat bagi protokol DeFi untuk memperkuat lapisan keamanan di luar smart contract. Penyimpanan kunci berlapis, pembatasan penarikan, pemantauan real time, dan prosedur penghentian darurat dapat membantu mengurangi risiko kerugian besar.
Dalam kasus AFX alami serangan, sekitar 24,15 juta USDC terkuras dari bridge AFX di Arbitrum, lima tanda tangan validator disebut menyetujui penarikan, dan dana kemudian dipindahkan ke Ethereum serta ditukar menjadi sekitar 12.467 ETH.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.Selalu Melakukan Perdagangan di Exchange yang Legal di Indonesia (Di bawah Pengawasan OJK)


