Cryptoharian – Harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan pembentukan Cadangan Bitcoin Strategis melalui perintah eksekutif. Alih-alih mengalami lonjakan harga seperti yang diharapkan, Bitcoin justru anjlok dari US$ 92.000 ke US$ 85.000, sebelum akhirnya stabil di kisaran US$ 88.000.
Sebelumnya, Bitcoin sempat mengalami kenaikan US$ 83.000 ke US$ 92.000 menjelang KTT Kripto Gedung Putih yang berlangsung pada 7 Maret. Banyak investor berharap kebijakan baru ini akan menciptakan permintaan besar dan mendorong harga lebih tinggi.
Namun, kenyataannya berbeda. Perintah eksekutif tersebut tidak mencantumkan rencana pembelian Bitcoin secara aktif, melainkan hanya mengandalkan Bitcoin yang telah disita oleh Pemerintah Amerika. Akibatnya, pasar tidak melihat dampak langsung yang bisa meningkatkan harga, sehingga banyak investor memilih menjual aset mereka.
Meski begitu, beberapa analis berpendapat bahwa langkah ini tetap merupakan perkembangan positif. Dengan adanya Cadangan Bitcoin Strategis, Amerika secara tidak langsung mengakui Bitcoin sebagai aset berharga. Jika negara lain mengikuti jejak ini, Bitcoin bisa makin diterima di tingkat global.
Faktor Ekonomi yang Pengaruhi Harga Bitcoin
Selain kebijakan dari pemerintah Amerika, data ekonomi terbaru juga berperan dalam pergerakan harga Bitcoin.
- Laporan menunjukkan bahwa lapangan kerja di Amerika bertambah 151.000 pada Februari, sesuai dengan perkiraan.
- Tingkat pengangguran naik menjadi 4,1 persen, yang menambah spekulasi bahwa The Fed mungkin akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Biasanya, suku bunga yang lebih rendah membuat aset seperti Bitcoin lebih menarik bagi investor. Namun, untuk saat ini, dampak dari data ekonomi ini masih belum cukup kuat untuk mendorong Bitcoin naik lebih tinggi.
Baca Juga: XRP Bisa Jadi Game Changer, Berapa Nilai Maksimalnya Menurut Ahli?
Prediksi AI Terkait Harga Bitcoin di Akhir Maret
Saat ini, Bitcoin masih bergerak di sekitar US$ 88.000, tetapi bagaimana prediksi harganya ke depan?
Menurut model kecerdasan buatan (AI) dari Finbold, Bitcoin diperkirakan akan naik sekitar 16,34 persen pada akhir Maret, dengan target harga rata-rata US$ 102. 938. Namun, ada beberapa prediksi lain yang memberikan gambaran lebih luas.
- Claude 3,5 Sonet memprediksi kenaikan 21,22 persen, yang berarti Bitcoin bisa mencapai US$ 107.217.
- Grok 2 Vision memberikan perkiraan yang lebih konservatif, dengan kenaikan 12,46 persen yang membawa harga ke sekitar US$ 99.484.
Apakah Bitcoin akan Naik Lagi?
Meskipun banyak investor ragu, sebagian besar analis percaya bahwa Bitcoin masih berada dalam tren naik, meskipun membutuhkan waktu untuk pulih.
- TradingShot memperkirakan Bitcoin akan bergerak sideways sepanjang Maret sebelum akhirnya mengalami kenaikan yang lebhi besar.
- CryptoQuant mencatat bahwa likuiditas di pasar masih rendah, yang membuat Bitcoin sulit untuk naik dalam waktu dekat.
Para analis juga menekankan bahwa Bitcoin membutuhkan akumulasi dari investor jangka panjang agar bisa kembali mengalami kenaika yang signifikan. Sampai hal itu terjadi, pergerakan kemungkinan akan tetap fluktuatif.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.








