Berita Bitcoin: Sebabkan BTC dan Altcoin Turun, Founder W3T Ungkap Asal Mula Permusuhan Binance dan FTX

Cryptoharian – Harga aset kripto utama serta altcoin lain harus kembali menghadapi kenyataan pahit, lantaran penurunan harga terjadi sesaat setelah adanya reli pada minggu lalu. Penyebab dari penurunan harga ini diduga kuat dari konflik yang terjadi antara perusahaan FTX milik Sam Bankman Fried dan Binance yang dikepalai oleh Changpeng Zao. 

Pendiri perusahaan W3T, Alex Valaitis di Twitter membagikan postingan yang menceritakan sejarah peperangan antar kedua perusahaan kripto raksasa ini. Dalam thread yang ia bagikan pada Selasa (8/11/2022), ia mengatakan bahwa kedua perusahaan ini sebenarnya sudah berperang sejak tahun 2019 lalu. 

“Pada tahun 2017, Binance berdiri dan dengan cepat menjadi pusat pertukaran kripto terbesar di dunia. Sejak peluncurannya, banyak pertukaran seperti Coinbase, BitMEX, Gemini dan lain-lain gagal merebut mahkotanya,” ungkap Valaitis.


Valaitis mengungkapkan, pada tahun 2019 berdirilah FTX yang dimotori oleh CEO Sam Bankman Fried (SBF). Secara tak terduga, CEO perusahaan yang membawahi aset FTT ini bukanlah orang sembarangan. Dengan cepat, ia membawa perusahaan yang dia pimpin ke level atas.

“Itulah kenapa Changpeng Zao (CZ) lewat Binance menanam investasi di FTX pada tahun 2019. Diumumkan juga bahwa FTX akan penawaran produk institusional untuk ekosistem Binance,” ujarnya.

Namun, FTX tumbuh dengan cepat selama pasar bullish terakhir, dan CZ merasa ini merupakan ancaman bagi perusahaannya. Valaitis menyebut, itulah kenapa pada tahun 2021 Binance memutuskan untuk menarik investasinya yang diketahui sebesar US$ 900 juta.

CZ mengklaim bahwa ini merupakan perputaran investasi yang biasa, padahal banyak orang yang tahu mengapa CZ bertindak demikian.

“Bukanlah sebuah rahasia kalau SBF punya ambisi besar, dan dia tahu satu-satunya jalan untuk memaksimalkan potensi dari FTX adalah dengan memenangkan regulasi kripto. Itu sebabnya dia adalah salah satu penyumbang terbesar tidak hanya dalam industri kripto, tetapi dalam politik AS secara keseluruhan, (Dia adalah penyumbang nomor 2 untuk kampanye Biden),” kata Valaitis.

Ia mengklaim, SBF sangat mengerti bahwasanya untuk mengalahkan Binance, dia perlu menggunakan politik di Amerika Serikat sebagai senjata. Ketika tensi Amerika dan China (asal CZ) mulai naik, dia memiliki kesempatan untuk menyerang Binance. 

Namun CZ juga bukanlah orang sembarangan. Dia menyerang balik dengan dua cara. Pertama, adalah pasca SBF menerbitkan proposal tentang regulasi kripto. Proposal ini mendapat protes dari kalangan industri crypto, dengan banyak yang mengklaim bahwa SBF mencoba untuk membunuh DeFi serta mendorong penangkapan peraturan. Sejak itu, SBF tiba-tiba dianggap sebagai musuh kripto.

“Salah satu media juga melaporkan bahwa sebagian besar aset senilai US$14,6 miliar di neraca Alameda (lengan investasi FTX), sebenarnya adalah token FTT yang dicetak oleh perusahaan itu sendiri. Ini berarti jika harga FTT turun, FTX sendiri bisa berisiko,” paparnya.

Valaitis menjelaskan, terlepas dari apakah risiko finansial dari FTT itu nyata atau tidak, CZ memiliki sudut yang dia butuhkan untuk melancarkan serangannya. Sebagai bagian dari divestasi dari FTX pada tahun 2021, Binance telah menerima US$ 2,1 miliar senilai FTT & BUSD. Dari sanalah kemudian CZ melakukan serangan. 

Ia juga menambahkan, hasil dari tweet CZ adalah penurunan langsung pada harga aset FTT. Menyadari risiko tersebut, @carolinecapital dan SBF sendiri dengan cepat angkat bicara. Caroline menawarkan untuk membeli FTT melalui perdagangan OTC, dan SBF menyerukan bahwa exchange harusnya bercinta, bukan berperang.

“Namun, jelas bahwa CZ tidak memiliki keinginan untuk berdamai. Dia selanjutnya menyalakan api FUD dengan menyorot @whale_alert akan transfer senilai US$584M enilai FTT & kemudian membandingkan FTX dengan LUNA,” tutur Valaitis.

Valaitis juga menyatakan bahwa langkah strategis di balik serangan CZ, yakni CZ menyadari keadaan industri saat ini. Setelah berbulan-bulan perusahaan besar (yang sebelumnya dianggap aman) menjadi bangkrut, investor secara mental bingung. Hal ini dikarekan logikan dasar bahwasanya tidak ada yang mau mengambil risiko.

Faktor Lain Penyebab Penurunan Harga BTC 

Berdasarkan laporan Consumer Price Index, inflasi di Amerika Serikat meningkat sebesar 0,6% pada September. Laporan Indeks Harga Konsumen, barometer tekanan inflasi yang paling banyak diikuti di Amerika Serikat telah naik menjadi 8,2% pada September 2022 dari September 2021, sedikit lebih tinggi dari 8,1% yang diprediksi oleh para ahli.

Dengan acara pelaporan CPI yang akan datang pada 10 November, Bitcoin mengalami penurunan 12% yang fluktuatif dalam 24 jam, mencapai rekor terendah untuk 2022. Melansir dari cointelegraph.com, penyebab turunnya harga BTC lainnya adalah jumlah konsumen yang berinvestasi dalam kripto meningkat secara dramatis pada tahun 2021, harga sangat dipengaruhi oleh pedagang eceran yang ingin menghasilkan uang pada perubahan tersebut. 

Sejak Juni, Bitcoin telah bergerak datar. Sebagian besar terjebak di kisaran US$ 17.000 – US$ 21.000 setelah turun dari tertinggi sepanjang masa November 2021 di dekat US$ 68.000. Turun di bawah level terendah sepanjang tahun mungkin tidak langsung memancing minat investor.

Menurut analis pasar independen Jaran Mellerud, aktivitas on-chain Bitcoin telah turun sepanjang tahun. Volume perdagangan kuartal kedua Coinbase turun sekitar setengahnya menjadi US$217 miliar. Antara pertengahan Juni dan pertengahan Juli, Binance melaporkan penurunan volume 50%, sementara Kraken dan Gemini masing-masing mengalami penurunan 75% dan 80%. [St]

Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Youtube

Trader Forex dan Bitcoin yang sudah bergelut di bidang trading dari tahun 2013. Sering menulis artikel tentang blockchain, forex dan cryptocurrency.