Bisakah Bitcoin Turun Dibawah $ 10.000 Lagi?

Pasar crypto tengah didominasi oleh aksi ‘berdarah’ yang menunjukan tekanan jual kuat pada Ethereum (ETH), Bitcoin (BTC), dan beberapa crypto terkenal lainnya seperti XRP, LTC, TRX, EOS, dan lainnya.

Untuk Ethereum, rontoknya token DeFi telah menjadi sebuah ‘bencana’ bagi investor yang telah menggerus banyak sekali uang yang juga menekan harga dari ETH itu sendiri karena jaringannya yang menjadi letak dimana DeFi bergerak.

Selain itu, sang crypto utama Bitcoin telah merosot sekitar 20% dari nilai dolar setelah turun dari level $ 12.500 ke wilayah $ 10.000-an hanya dalam dua minggu, meninggalkan pola “Bart” yang tengah dihadapi saat ini.

Penurunan BTC ini telah memicu kejatuhan juga pada beberapa crypto utama lain yang tentu menjadi penghias ‘Merah’ bagi pasar crypto saat ini.

Berikut ulasan dari BTC agar Anda dapat memahami sudut pandang yang ada dan juga potensinya.

Bart Top

Pada grafik 4 jam dapat dilihat, BTC telah merosot cukup dalam hingga 20%, membawanya dari level puncak hampir $ 12.500 ke level Low terbarunya dikisaran $ 9.900-an dan kembali lagi di atas $ 10.000 pada saat penulisan ini.

Kejatuhan ini menyeret crypto lainnya kedalam penurunan tajam, yang tentu menjadi sinyal negatif untuk psikologi investor!

Dalam historisnya, pola Bart ini biasanya akan berlanjut lagi dengan penurunan setelah membentuk semacam Bears Correction sehingga perlu diantisipasi setiap level Resistance yang ada, terutama dikisaran level $ 11.000 yang sebelumnya merupakan area Support yang diharapkan.

Fibo Retracement Jadikan $ 7.000 Sebagai Support

Dalam analisa dengan pendekatan Fibo Retracement, analis akan menjadikan level $ 7.000-an sebagai titik Support krusial bagi harapan Bulls untuk berlanjut, karena penembusannya akan menjadi tanda mengerikan bagi harga BTC.

Seorang analis bernama akun @officiallykeith menuliskan dalam cuitan Twitter-nya mengenai hal ini pada 4 September lalu:

“[Jika] kehilangan 0,618 pada [grafik] mingguan di $ 7.033, saya mungkin akan mewujudkan impian saya untuk tidak memiliki apa-apa.”

Secara garis besar, Fibo ini digambar pada grafik Weekly, sehingga reaksi harga pada tiap levelnya bisa menjadi sebuah sinyal jangka menengah / panjang.

Skema Bullish lebih diprioritaskan pada level Bounce, dimana level 61,8% adalah ‘Harapan Terakhir’ bagi para Bulls untuk tetap bisa perpegangan karena begitu harga mampu menembusnya dengan kuat, disitulah sirine Bearish untuk mendominasi mulai terdengar.

Selain kedua faktor ini, CME Gap harus diperhatikan juga.

Menurut Josh Rager, trader kripto yang handal, men-Tweet:

BTC CME Futures ditutup pada $10.620, jadi setiap aksi harga akhir pekan sepertinya akan lebih rendah dari harga penutupan.

CME Gap adalah salah satu indikator yang sering digunakan oleh pedagang Bitcoin untuk memprediksi aksi harga. CME Future gap menunjukkan perubahan antara harga buka dan tutup sebuah aset, termasuk Bitcoin.

Ketika ada Gap, harga, cepat atau lambat akan menutup gap tersebut.

Pada saat ini, CME Gap berada di $9.665 dan $9.925. Dan, menurut analis lainnya, Crypto Michael/ Van De Poppe, jika BTC turun dibawah $10.000, kemungkinan besar, Gap ini akan terisi dan penurunan dibawah $9.600 juga akan terjadi. Kita lihat saja.

Note: Artikel ini bukan nasihat investasi.


Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Twitter

Penggemar Cryptocurrency dan Mengembangkan Bisnis di Internet dan Percaya Bahwa Informasi Harus Disebarluaskan Secara Transparan. Tidur, Makan dan Tulis