CryptoHarian

Bitcoin Berhasil Pulih ke Angka US$ 42.000, Ini yang Jadi Penyebab

Cryptoharian – Setelah mengalami penurunan yang melanda pasar selama seminggu ini, akhirnya Bitcoin menunjukkan pemulihan. Pasalnya, nilai Bitcoin kembali ke angka US$ 42.000 setelah beberapa hari terpuruk di bawah US$ 40.000. Lonjakan ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk indikator ekonomi penting dan dinamika pasar yang memainkan peran kunci dalam pemulihan baru kripto utama ini.

Salah satu faktor penting yang mendorong kenaikan ini adalah rilis Indeks Harga Pengeluaran Pendapatan Pribadi (PCE) pada 26 Januari. Berdasarkan data tersebut, tampak bahwa tingkat inflasi lebih rendah dari yang diperkirakan. Melansir dari newsbtc.com, dari indikator ini para ahli yakin bahwa The Fed kemungkinan bakal lebih lunak pada kebijakan moneternya. 

Sebelumnya, pasar kripto sempat diterjang pengaruh negatif, lantaran sikap The Fed yang cenderung hawkish. Namun, karena kini sikap agresif The Fed tersebut agak berkurang, maka hal ini dapat menjadi sinyal bahwa aset kripto akan menjulang lebih tinggi lagi. 

Faktor kedua datang dari Departemen Keuangan Amerika Serikat yang menunjukkan utang nasional mencapai rekor tertinggi US$ 34,1 triliun. Jumlah utang nasional ini menimbulkan kekhawatiran tentang kestabilan dolar Amerika Serikat. 

Berita Bitcoin: Bitcoin Rebound, Ini Pandangan Dua Analis Terkait Prediksi Lonjakan Harga

Namun jika dilihat dari sisi pasar digital, maka rekor tertinggi utang nasional AS tersebut bakal membuat Bitcoin dan mata uang kripto lainnya menjadi pilihan bagi investor. Aset kripto saat ini pun sudah menjadi salah satu instrumen yang dianggap tepat, bagi individu yang ingin melindungi nilai investasinya dari potensi pelemahan mata uang negara.

Pelemahan mata uang negara ini pun sudah dibahas oleh beberapa tokoh keungan terkenal, seperti Peter Schiff yang memprediksi kemungkinan kejatuhan dolar Amerika Serikat. Selain itu, ada juga Robert Kiyosaki yang merupakan penulis dari buku terkenal ‘Rich Dad Poor Dad’, dimana ia memprediksi bahwa AS akan menjadi mengalami keruntuhan finansial. 

Faktor ketiga yang diyakini turut memengaruhi kenaikan Bitcoin adalah berakhirnya kontrak opsi bulanan BTC di Deribit. CEO CryptoQuant, Ki Young Ju, sebelumnya menyoroti bahwa pasar derivatif memainkan peran dalam penurunan Bitcoin, sehingga hasil berakhirnya kontrak ini dianggap sebagai elemen penting dalam reli harga baru.

Terakhir, adalah melambatnya aliran keluar dari perusahaan Grayscale Bitcoin Trust (GBTC). Pada 26 Januari, GBTC hanya mengalami aliran keluar sebesar US$ 255,1 juta, menandai hari keempat berturut-turut dengan penurunan aliran keluar. Analis Bloomberg, James Seyffart menekankan bahwa ini merupakan hari terendah aliran keluar sejak GBTC beralih menjadi Spot Bitcoin ETF. 

Disclaimer: Semua konten yang diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh artikel yang telah tayang di Cryptoharian bukan nasihat investasi atau saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.

Iqbal

Penulis yang senang mengamati pergerakan dan pertumbuhan cryptocurrency. Memiliki pengalaman dalam beberapa kategori penulisan termasuk sosial, teknologi, dan finansial. Senang mempelajari hal baru dan bertemu dengan orang baru.