Cryptoharian – Bitcoin (BTC) berpotensi merebut kembali level US$ 100.000 sebagai support dalam beberapa hari ke depan, dengan ruang reli menuju US$ 107.000 jika sinyal teknikal dan data fundamental terus mendukung. Sejumlah indikator menunjukkan bahwa kenaikan terbaru tidak hanya dipicu momentum sesaat, melainkan ditopang struktur breakout yang relatif rapi serta meredanya tekanan jual dari pemegang jangka panjang.
Di sisi teknikal, Bitcoin dikatakan telah mengonfirmasi breakout dari pola ascending triangle yang terbentuk selama beberapa pekan. Setelah menembus batas atas pola di sekitar US$ 95.000, harga sempat mundur untuk menguji ulang level tersebut, yang sebelumnya menjadi resisten sebagai support. Respon pantulan setelah retest ini kerap dianggap sebagai ciri breakout yang valid, bukan fakeout, karena pasar menunjukkan ada pembeli yang mau mempertahankan level baru.
Selama US$ 95.000 tetap bertahan, struktur breakout nyata dinlai masih utuh dan target kenaikan dari pola tersebut tetap relevan. Proyeksi US$ 107.000 berasal dari pendekatan klasik measured move, mengambil tinggi maksimum segitiga lalu menambahkan ke titik breakout, dengan jendela target yang mengarah ke Februari bila tren berlanjut.
Sinyal tambahan datang dari rata-rata pergerakan harian, ketika grafik Bitcoin mendekati potensi bullish crossover antara EMA 20 hari dan EMA 50 hari. Pada siklus sinyal sebelumnya, pola serupa diikuti kenaikan sekitar 17 persen dalam satu bulan berikutnya. Karena itu, jika crossover benar-benar terkonfirmasi, sebagian trader menilai peluang kelanjutan tren ikut meningkat.
Baca Juga: Pendiri Ethereum Serukan Perlawanan di 2026 Menyusul Keresahan Soal Transaksi Privat
Dari sisi on-chain, reli ini dinilai lebih kredibel tekanan jual dari pemegang lama mulai mereda. Data yang melacak UTXO dari ‘OG holders‘, koin yang tidak bergerak lebih dari lima tahun, menunjukkan distribusi ke puncak lokal terbaru melambat. Rata-rata 90 hari dari koin yang dibelanjakan sempat mencapai sekitar 2.300 BTC pada fase sebelumnya, tetapi kini turun mendekati 1.000 BTC.
Analis DarkFost menilai perubahan tersebut menunjukkan kecenderungan pemegang lama untuk kembali menahan aset, bukan mendistribusikannya. Hal ini penting karena penjualan OG, ketika terjadi, bisa menjadi sumber tekanan besar. Perlambatan distribusi ini juga sejalan dengan arus keluar bersih Bitcoin dari bursa yang disebut sebagai yang terbesar sejak Desember 2024.
Di luar faktor internal kripto, ada pula sinyal makro yang dinilai mendukung. Hubungan historis Bitcoin dengan emas kembali disorot, khususnya ketika korelasinya berubah menjadi negatif. Dalam beberapa kejadian sebelumnya, fase korelasi negatif antara BTC dan emas diikuti reli rata-rata 56 persen dalam dua sekitar dua bulan, meski ada pengecualian pada Mei 2021 yang dipicu guncangan eksternal seperti pengetatan di China dan deleveraging paksa.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.








