Cryptoharian – Harga Bitcoin (BTC) jatuh di bawah level psikologis US$ 100.000 pada Kamis, menandai titik terendah mingguan di US$ 98.200 sebelum sedikit pulih ke kisaran US$ 98.400 saat sesi perdagangan tengah hari di Amerika Utara.
Melansir dari coinpedia.org, penurunan ini memperkuat kekhawatiran pasar soal potensi koreksi lebih dalam di tengah melemahnya minat beli institusional dan tekanan makro.
Apa Penyebabnya Penurunan?
- Aksi Jual Besar dari Whale dan Holder Jangka Panjang
Data dari CryptoQuant mengungkapkan bahwa pemegang jangka panjang telah menjual US$ 815.000 BTC dalam 30 hari terakhir, volume yang mencerminkan pola distribusi serupa dengan kuartal IV 2024.
Platform analitik Arkham juga mendeteksi aksi jual besar senilai US$ 290 juta oleh salah satu whale melalui bursa Kraken hanya dalam satu hari.
Sementara itu, harga emas terus naik. Ini bisa jadi indikasi bahwa investor besar memilih zona aman. Meskipun pemerintah Amerika Serikat telah resmi dibuka kembali, arus modal ke pasar kripto belum cukup kuat untuk menyerap tekanan jual sebesar ini.
- Long Squeeze dan Likuidasi Besar-Besaran
Penurunan mendadak harga Bitcoin juga memicu efek domino di pasar derivatif. CoinGlass mencatat total likuidasi senilai US$ 647 juta, dengan lebih dari US$ 519 juta berasal dari posisi long, dan US$ 234 juta di antaranya dari BTC saja.
Fenomena ini dikenal sebagai long squeeze, kondisi di mana trader yang memegang posisi beli terpaksa likuidasi akibat pergerakan harga yang terlalu cepat, dan memperparah penurunan harga.
Baca Juga: US$ 612 Juta Long Trader Terkubur, Kripto Kembali Anjlok
Indeks “Fear and Greed” kripto kini anjlok ke level 25, mencerminkan ketakutan ekstrem yang belum terlihat sejak pertengahan tahun.
Analisis Teknikal
Gagalnya BTC untuk merebut kembali level US$ 107.000 dalam beberapa hari terakhir mengonfirmasi pembalikan arah tren. Saat ini, harga bergerak menuju support tren naik logaritmik multi-tahun.
Secara teknikal, penurunan bisa berlanjut hingga US$ 92.000, level di mana masih terdapat CME gap yang belum tertutup dan sering dianggap sebagai magnet harga oleh trader berpengalaman.
Mata pasar kini tertuju pada The Fed, yang dijadwalkan memulai Quantitative Easing (QE) pada Desember mendatang. Banyak analis Wall Street memperkirakan bahwa likuiditas baru dari QE akan mendorong rotasi modal dari emas ke Bitcoin.
Jika itu terjadi, Bitcoin berpotensi mengalami rebound tajam, dengan beberapa proyeksi menyebutkan reli parabolis di awal 2026.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.Selalu Melakukan Perdagangan di Exchange yang Legal di Indonesia (Di bawah Pengawasan OJK)


