CryptoHarian

Harga Bitcoin Kembali Menyentuh Rp 141 Juta, Apakah Bisa Bertahan?

Bitcoin dan pasar cryptocurenncy secara keseluruhan tiba-tiba mengalami tekanan pembelian yang tinggi dan sudah menembuh $10.000 atau Rp 140 juta an, setelah perdagangan sideways selama 2 minggu terakhir di harga Rp 135 juta-an.

Analis sekarang mencatat bahwa pergerakan terbaru ini yang secara volatil membuat BTC menjadi harga Rp 140 juta-an dapat merubah sentimen pasar menjadi negatif, yang pada akhirnya menjadi trend bearish (turun).

Pasa saat pers, harga Bitcoin berada di angka $10.009 atau Rp 141 juta, naik 3.4 persen dalam 24 jam menurut CoinGecko.

Lonjakan harga ini muncul setelah periode tekanan jual yang pertama kali dimulai pada akhir Juni ketika Bitcoin gagal menembus di atas $13.800 atau 199 juta-an. Kegagalan tersebut menyebabkan harga Bitcoin jatuh ke harga Rp 160 juta-an dan stagnan di harga Rp 133 juta- Rp 138 juta-an.

Analais, sekarang, mencatat bahwa lonjakan harga terbaru ini telah menambahkan kekuatan teknis pada cryptocurrency, tetapi mereka juga memperingatkan bahwa mungkin ada kemunduran kecil sebelum Bitcoin memantapkan posisinya dalam harga $10.000 atau Rp 140 juta-an.

Pembaruan $BTC: Saya masih bullish tetapi sangat masuk akal untuk melepas beberapa di sini dan menunggu harian tutup pada $10.300 (Rp 145 juta-an). Jika tidak, saya tetap akan menutup perdagangan. Berdagang saat sentimen bergeser dari satu ekstrem ke esktrem yang lain adalah cara favorit saya untuk berdagang.

Meskipun sentimen pasar secara umum cukup bearish sebelum pergerakan ini, dengan banyak analis mengantisipasi pergerakan ke $8.800, analis sekarang mencatat bahwa kenaikan baru yang terkadi setelah pergerakan Bitcoin di atas $10.000 bisa menjadi jebakan.

Baca Juga: Pengertian Kewirausahaan: Arti, Sifat, Mencari Modal Dan Tips Untuk Memulai

Dave The Wave mengatakan di Twitter:

Dengan tren yang lebih lama dalam pikirian, tes untuk melihat kisaran di atas harus dibaca sebagai ‘bait and switches’. Orang-orang mendapatkan sentimen Bullish (kebangkitan FOMO) dan kemudian…. dapat diprediksi. Psikologi ini  adalah salah satu kecemasan.

Perlu dicatat bahwa ada beberapa analis menggunakan teknik NVT dan mereka melihat Bitcoin akan turun.

Banyak analis telah menggunakan rasio NVT dalam strategi perdagangan mereka dengan sukses besar. Penulis TradingView yang eksentrik dan blak-blakan, MagicPoopCannon, telah berulang kali mengutip NVT sebagai indikator penting yang ia gunakan untuk aksi harga Bitcoin dan menetapkan target.

Saat ini, MagicPoopCannon mengharapkan lebih banyak penurunan di masa depan Bitcoin berdasarkan indikator NVT, namun, pencipta indikator itu sendiri tetap Bullish.

Pencipta sinyal, Willy Woo mengatakan bahwa “tahap 1” dari laju Bulls Bitcoin telah meletakkan dasar bagi permulaan kenaikan Bulls penuh untuk memulai. Ini menunjukkan bahwa sementara pencipta sinyal NVT mengharapkan pullback, dia tidak menaruh kepercayaan tambahan pada kemampuan rasio untuk menghentikan Puncak dan Bottom.

Namun, Puncak dan Bottom tidaklah akan bertahan selamanya, sampai cukup waktu berlalu, sulit untuk mengatakan dengan pasti bahwa Bottom telah ditetapkan. Contoh sempurna dari ini adalah sepanjang pasar Bears 2018 ketika sebagian besar analis memperkirakan Support pada level $ 6.000 untuk bertahan, namun ternyata telah tertembus cukup jauh.

Untuk saat ini, masih tidak ada ketentuan arah mana Bitcoin akan berjalan. Namun, harga Bitcoin mungkin tetap akan memuncak ketika mendekati hari Halving Bitcoin pada tahun 2020.

Ikuti Cryptoharian Di:
Septiady

Septiady

Penggemar Cryptocurrency dan Percaya Bahwa Informasi Harus Disebarluaskan Secara Transparan. Tidur, Makan dan Tulis

1 comment

  • BTC oke lah kembali pulih
    Tpi apa gak liat di indodax altcoin semua terjun bebas ke dasar
    Dan parahnya lgi market tak ada pergerak kan selama duapekan
    Bolelah btc up tapi koreksi untuk altcoin idr,y kalo gak semua trander akan benr benr bubar dan beralih ketempat lain

    Tank,s for admin indodax

Subscribe Untuk Berita Cryptocurrency Terbaru

Ikuti Kami Di:

Advertisement