Cryptoharian – Harga Bitcoin (BTC) turun tajam sebesar 7 persen, dari US$ 88.060 pada 26 Maret menjadi US$ 82.036 pada 29 Maret. Penurunan ini memicu likuidasi posisi long senilai US$ 158 juta, dan langsung mengkhawatirkan investor bullish. Melansir dari cointelegraph.com, yang membuatnya mencolok adalah harga emas justru mencetak rekor baru di saat yang sama.
Namun, beberapa analis tetap optimis. Mereka melihat penurunan ini bukan sebagai tanda bahaya jangka panjang, melainkan sebagai koreksi wajar menjelang potensi reli.
Tekanan terhadap Bitcoin sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran resesi global, perang dagang yang belum mereda, serta pemangkasan anggaran oleh pemerintah Amerika. Tetapi para ahli menilai faktor-faktor ini bersifat sementara.
Beberapa analis memperkirakan bahwa tambahan likuiditas akan segera mengalir ke pasar sebagai respon terhadap situasi ekonomi global, dan hal ini biasanya mendorong naiknya aset beresiko seperti Bitcoin.
Sementara Bitcoin mengalami tekanan, aset emas telah mengalami lonjakan ke US$ 3.087 per ons pada 28 Maret. Di sisi lain, indeks Dolar AS (DXY) turun dari 107,40 menjadi 104 dalam sebulan terakhir, yang merupakan tanda bahwa investor mulai mencari aset lindung nilai alternatif.
Namun, ada juga tekanan dari sisi institusi. ETF Bitcoin Spot mencatat arus keluar bersih senilai US$ 93 juta pada 28 Maret. Ini mengindikasikan bahwa bahkan investor besar pun memilih menjual sementara waktu di tengah kekhawatiran ekonomi global.
Baca Juga: Tanggal 2 April Menjadi Penentuan Bitcoin Naik Atau Tidak!
Menurut Alexandre Vasarhelyi, selaku pendiri B2V Crypto, pasar saat ini sedang memasuki fase ‘undur diri’ setelah lonjakan besar sebelumnya. Ia menganggap koreksi ini sebagai bagian dari fase pertumbuhan awal, bukan sinyal kekacauan.
Vasarhelyi menyebut, tidak penting jika Bitcoin berada di harga US$ 77.000 atau US$ 65.000. Ia mengatakan bahwa hal terpenting adalah tren adopsi yang meningkat.
Dalam hal ini, ia juga menyoroti bahwa meski tokenisasi aset dunia nyata (RWA) seperti proyek BUIDL dari BlackRock bernilai pasar, pengaruhnya masih kecil dibandingkan pasar obligasi global yang bernilai US$ 100 triliun.
Selain itu, beberapa pihak juga mulai mempertanyakan posisi Bitcoin sebagai emas digital, terutama karena emas justru naik saat Bitcoin turun. Namun, investor kawakan seperti Vasarhelyi menilai bahwa reaksi Bitcoin lebih mencerminkan statusnya sebagai aset baru yang masih dalam tahap adopsi, bukan kegagalan fundamental.
Dirinya menyebut bahwa 2025 adalah tahun fondasi, dan belum merupakan tahun ledakan besar. Nantinya, dia juga memprediksi bahwa regulasi akan mulai terbentuk, dan produknya semakin ramah pengguna, dan inilah proses menuju adopsi masal.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.








