Cryptoharian – Kripto utama Bitcoin (BTC) sempat naik di atas US$ 68.000 minggu ini, yang mana ini merupakan level tertinggi sejak Agustus, namun kembali turun di bawah US$ 67.500. Banyak investor sekarang bertanya-tanya, apakah Bitcoin dapat kembali naik atau apakah kondisi ekonomi saat ini membuat kenaikan harga semakin sulit.
Melansir dari cointelegraph.com, laporan ekonomi Amerika Serikat yang kuat dan peralihan minat ke pasar saham telah mengurangi minat terhadap Bitcoin. Namun, kasus hukum penting antara Ripple dan regulator Amerika mungkin akan membawa perubahan besar di dunia kripto.
Pada 17 Oktober, Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan bahwa klaim pengangguran turun 19.000 pada minggu yang berakhir 12 Oktober. Selain itu, penjualan ritel di Amerika naik 0,4 persen pada bulan Agustus dibandingkan bulan sebelumnya.
Jonathan Millar selaku ekonom di Barclays, menyatakan bahwa pengeluaran konsumen dan perekrutan terus tumbuh, yang mana menciptakan siklus positif bagi ekonomi. Ketika pengeluaran konsumen naik, saham perusahaan cenderung naik, sehingga investor lebih memilih pasar saham daripada Bitcoin.
Hal ini terlihat ketika tanggal 17 Oktober, indeks saham S&P 500 mengalami kenaikan, dipimpin oleh perusahaan teknologi seperti Nvidia dan Taiwan semikonduktor Manufacturing Company (TSMC). Saham Nvidia naik 3 persen ke level tertinggi sepanjang masa, sementara saham TSMC melonjak 13 persen setelah melaporkan hasil keuangan yang kuat dan meningkatkan proyeksi pendapatan untuk tahun 2024.
Baca Juga: Pasar Kripto Boncos US$ 287 Juta, Bitcoin dan Ethereum Paling Terdampak
Dengan ekonomi Amerika yang kuat, Bitcoin menjadi kurang menarik bagi investor yang lebih memilih saham teknologi yang sedang naik. Hal ini lantaran Bitcoin sering dianggap sebagai aset yang beresiko, dan investor cenderung mengalihkan perhatian mereka ke vektor yang lebih stabil seperti saham saat kondisi ekonomi baik.
Namun meskipun kondisi ekonomi tidak mendukung Bitcoin dalam jangka pendek, ada satu peristiwa besar di dunia kripto yang bisa mengubah situasi. Ripple, salah satu perusahaan kripto besar sedang menghadapi kasus hukum dengan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika.
Beberapa analis berpikir, jika Ripple memenangkan kasus ini, maka hal tersebut bisa menciptakan lingkungan regulasi yang lebih baik untuk mata uang kripto di Amerika Serikat. Sebelumnya, SEC menuduh Ripple melakukan penjualan token XRP tanpa izin sebagai bentuk penawaran sekuritas.
Beberapa analis juga menyebut bahwa tenggat waktu bagi SEC untuk mengajukan banding mungkin telah terlewat.
Saat ini Bitcoin masih terpengaruh oleh faktor ekonomi yang lebih besar dan ketidakpastian regulasi. Ekonomi Amerika yang kuat, dengan pertumbuhan lapangan kerja dan pengeluaran konsumen tampaknya membuat inverter lebih tertarik pada saham daripada Bitcoin.
Dalam beberapa hari kedepan, perhatian akan tertuju pada perkembangan kasus riba dan bagaimana kondisi ekonomi Amerika berlanjut.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.Selalu Melakukan Perdagangan di Exchange yang Legal di Indonesia (Di bawah Pengawasan OJK)



