Cryptoharian – Dalam sebuah update laporan terbaru, seorang analis dengan nama samaran VirtualBacon di platform X memberikan sebuah prediksi yang menarik. Dalam serangkaian postingan, dia menegaskan bahwa banyak dari kalangan investor yang bertanya-tanya, terkait apakah Bitcoin (BTC) akan jatuh ke nol atau terbang ke US$ 100.000.
“Bitcoin terus bergerak pada kisaran US$ 50.000 dan US$ 65.000 dalam beberapa minggu ini. Akhirnya banyak yang bertanya kepada saya, apakah memang harganya turun menuju nol atau justru bakal melonjak ke US$ 100.000,” ungkap VirtualBacon.
Ia menjelaskan, biasanya harga Bitcoin mengikuti pola empat tahun yang dipengaruhi oleh halving event. Namun, dalam hal ini VirtualBacon berpendapat bahwa siklus 2024 yang akan datang mungkin tidak akan mengikuti pola ini.
“Dari apa yang saya lihat, pola empat tahun ini sedang terganggu dan kita perlu cara baru untuk memahami pergerakan Bitcoin,” ujarnya.
Alih-alih berfokus pada halving, VirtualBacon melihat faktor-faktor lain yang lebih relevan dalam memengaruhi harga Bitcoin, yaitu likuiditas dan suku bunga dari The Fed.
Berdasarkan pergerakan BTC sat ini, ia memprediksi bahwa kenaikan harga Bitcoin akan berakhir dalam 15 bulan, yang berbeda dari ekspektasi biasanya. Prediksi ini didasarkan pada risetnya yang menunjukkan bahwa harga Bitcoin sekarang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi global.
Menurutnya, jika melihat dari jangka pendek maka Bitcoin menunjukkan tanda-tanda kekuatan. VirtualBacon mencatat bahwa Bitcoin telah kembali naik di atas beberapa indikator penting, yang menunjukkan adanya potensi kenaikan lebih lanjut.
Baca Juga: Bitcoin Diprediksi Kembali ke US$ 60.000? Ini 4 Alasannya
“Jika Bitcoin berhasil mempertahankan posisinya pada kisaran US$ 60.000, kemungkinan besar harganya akan kembali menguji rekor tertinggi sebelumnya di angka US$ 70.000 pada pertengahan September,” kata VirtualBacon.
Analis tersebut juga menyampaikan bahwa The Fed baru-baru ini mengumumkan kebijakan penting yang bisa berdampak besar pada Bitcoin. Dari apa yang disampaikan lembaga tersebut, terdapat isyarat bahwa mereka akan mengambil kebijakan untuk menurunkan suku bunga.
“Pemotongan suku bunga tentu akan menambah jumlah uang yang beredar, dan bisa meningkatkan harga Bitcoin,” paparnya.
Ia juga menjabarkan bahwa banyak dari kalangan analis yang ‘memanfaatkan’ halving Bitcoin untuk memprediksi pergerakan harga di masa depan. Akan tetapi, VirtualBacon juga mempertanyakan pendekatan ini, karena data yang ada sangat terbatas dan tidak selalu konsisten.
“Lebih baik kita fokus saja pada pasokan uang M2, yang merupakan ukuran total uang yang beredar pada lingkup ekonomi,” urai VirtualBacon.
Pasokan uang M2, lanjutnya, diperkirakan bakal terus meningkat seiring dengan pemangkasan suku bunga oleh The Fed, yang bisa mendorong harga Bitcoin naik hingga akhir 2025. Selain itu, Index Likuiditas Global juga menunjukkan bahwa semakin banyak lukuidasi global, maka BTC cenderung naik lebih agresif dibandingkan aset tradisional.
“Jadi sebaiknya kita perlu mengubah cara pandang kita tentang Bitcoin. Bukan lagi menyoal siklus halving, tetapi juga bagaimana faktor ekonomi global seperti lukuiditas dan kebijakan suku bunga,” pungkas VirtualBacon.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.









