Bursa Saham Menguat Signifikan, Analis Ekonomi: Bitcoin Bisa Ikut Naik Jika Capai Titik Resistance US$ 24.100

Pengamat dari Fundstratm Tom Lee pada Jumat (29/7/2022) lalu memprediksi, pasar modal capai rekor tertinggi dalam waktu dekat.

“Pengambilan terbesar bagi saya pada minggu ini? Ada factor kuar yang meyakinkan, dan bisa dibilang akan menentukan ‘nilai terendah’ (bearish) dari tahun 2022 sudah terlewati,” ujar dia.

Keyakinan Lee cukup beralasan, pasalnya, saat The Fed menaikkan suku bunga 75 basis poin, ada lebih banyak volatilitas harga gas yang dipengaruhi ketegangan politik Antara Barat dengan Rusia yang mengendalikan Nord Stream Gas mereka. Meski dengan rentetan kabar buruk, namun S&P 500 dan Nasdaq 100 berhasil melakukan reli 3%.

“Ketika berita buruk tidak menurunkan pasar, inilah saatnya bagi investor untuk menilai,” kata Lee.

Di sisi pendapatan, meskipun dolar AS yang menguat serta ketidakpastian ekonomi yang meningkat, perusahaan melaporkan hasil yang lebih baik dari yang dikhawatirkan sebelumnya. Dengan 52% dari S&P 500 telah melaporkan pendapatan kuartal kedua, 73% mengalahkan perkiraan laba dengan median 7%.

Sejumlah perusahaan raksasa seperti Alphabet, Microsoft, Amazon, dan Apple semakin membuat yakin investor dengan kenaikan harga saham mereka hingga mampu menahan inflasi.

Ia meyakini, ekonomi saat ini berada di titik balik, meski menurut dia, ada banyak yang masih disorot seperti logam hingga minyak hingga biji-bijian telah mengalami penurunan dalam beberapa minggu terakhir.

Ia mengaitkan peristiwa ini dengan strategi The Fed pada tahun 1982, dimana Kepala The Fed, Paul Volcker yang mendorong pasar saham hingga mampu berbalik ke level tertinggi.

“Selama perang Volcker melawan inflasi, ekuitas mencapai titik terendah pada Agustus 1982. Ini adalah dua bulan sebelum Volcker meninggalkan langkah-langkah ‘anti-inflasi’. Lebih penting lagi, saham memulihkan kerugian pasar bearish selama 36 bulan dalam 4 bulan,” kata dia.

Hal ini juga diyakini memberi sentiment positif terhadap pasar kripto, tak terkecuali Bitcoin, sebagai kripto dengan pasar terbesar.

Sementara, dalam sepekan terakhir, harga kripto terus menguat hingga membuat sejumlah analis kaget. Pasalnya, kebanyakan dari mereka memprediksi sebaliknya di tengah kenaikan suku bunga acuan The Fed serta ekonomi AS yang kini resmi resesi.

Tren ini jadi harapan bagi para investor kripto yang sebelumnya harus menangisi aset mereka lantaran anjlok parah. Kini, kebangkitan kripto nampak semakin menjanjikan. Investor juga mulai melirik asset kripto karena dianggap masih mampu kembali menguat.

Analis Pasar dari Reuters, Paul Spirgel mengatakan, Bitcoin berpotensi terus naik. Saat ini, kripto tersebut masih berupaya menguji titik resistance US$ 24.100. Jika tertembus, maka bukan tidak mungkin bisa berlanjut ke US$ 24.400-24.800.

Sementara titik support berada di US$ 23.400. Jika nilai tersebut tertembus, maka ada risiko terjadi koreksi terbatas di angka US$ 21.000. [St]

Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Youtube

Trader Forex dan Bitcoin yang sudah bergelut di bidang trading dari tahun 2013. Sering menulis artikel tentang blockchain, forex dan cryptocurrency.