CEO Fidelity dan Kisah Crypto Winter Ketiganya

Cryptoharian – Pada pekan lalu, CEO dari Fidelity Investments Abby Johnson, membagikan pandangan dan pengalamannya tentang aset kripto dalam obrolan di acara Konsensus bersama Matthew Walsh, Mitra Pendiri dari Island Ventures. Ia membeberkan pendapatnya terkait pasar Bearish yang sedang melanda pasar kripto beberapa minggu ini.

“Saya pikir ini adalah crypto winter ketiga saya. Kemudian saat Anda melihat pasar Bearish dan pasar sekuritas, saya telah melihat banyak pasang surut. Tetapi saya melihatnya sebagai peluang, dan saya dibesarkan untuk menjadi pemikir, sekaligus petarung,” kata Abby dilansir dari Cryptoglobe.com, Kamis (16/6/2022).

Abby menuturkan, ia mendapatkan reaksi spontan jika orang percaya bahwa dasar-dasar kasus jangka panjang benar-benar kuat ketika semua orang terjun, maka itulah saatnya untuk melipatgandakan dan menyelam ekstra keras ke dalamnya. 

“Hal itu biasanya gerakan yang benar. Jadi, saya sangat bersemangat tentang apa yang terjadi. Maksud saya, saya merasa tidak enak tentang nilai yang telah hilang, tetapi saya juga percaya bahwa ada banyak hal yang akan datang dan itu sangat menarik,” ujarnya.

Di lain kesempatan, Abby juga pernah membahas tentang langkah perusahaannya dalam menawarkan eksposur ke aset crypto seperti Bitcoin dalam rencana pensiun klien. Ia pada awalnya tidak menyangka akan mendapatkan banyak perhatian terkait produk tersebut, di mana perusahaan justru telah mendapatkan banyak umpan balik positif.

“Melihat beberapa regulator mencoba untuk bersandar pada hal ini sangat menggembirakan dan menggairahkan bagi kami. Karena jika mereka tidak memberi kami rute untuk membuat beberapa koneksi ini, maka sangat sulit bagi kami untuk menghadirkannya, agar terasa mulus,” kata Abby

Menurutnya, Fidelity sendiri memang sudah terkenal dekat dengan aset crypto, dengan adanya dua produk ETF ke aset crypto dan sektor yang ada di industry. Sehingga, bagaimana pandangan Abby terhadap kondisi saat ini, tentu berdasarkan pengamatan yang mendalam dan riset. 

Selain itu, bila kita melihat bagaimana sejarah pergerakan harga jangka panjang dari BTC, maka penurunan semacam ini adalah hal yang biasa. Pasalnya, di masa lalu harga pun pernah merosot sangat tajam, dari $20.000 ke kisaran $3.000, dan pada akhirnya mampu pulih dan melesat hingga ke kisaran $60.000, yang menjadi ATH baru.

Dirinya berpendapat, tidak salah juga jika penurunan saat ini dilihat sebagai peluang dalam jangka panjang, tentunya bagi investor yang yakin akan masa depan yang cerah bagi industri kripto. Terlebih, regulasi tampaknya akan semakin mendukung perkembangannya.

Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Youtube

Penggemar Cryptocurrency dan Mengembangkan Bisnis di Internet dan Percaya Bahwa Informasi Harus Disebarluaskan Secara Transparan. Tidur, Makan dan Tulis