CryptoHarian

CEO Telegram Ditangkap, Bagaimana Masa Depan Koin TON?

Cryptoharian – Pavel Durov, yang merupakan pendiri sekaligus CEO Telegram dikabarkan tertangkap di negara Perancis pada Sabtu (24/8/2024) malam. Hal ini disampaikan oleh salah satu pengamat kripto papan atas bernama Mario Nawfal di media sosial X.

“Pihak otoritas Perancis baru saja menangkap Pavel Durov, dan proyek blockchain TON yang didukung oleh petinggi Rusia,” ungkap Nawfal.

Dilansir dari decrypt.co, penangkapan ini dilakukan oleh Kantor Anti-Penipuan Nasional Perancis dan langsung menyebabkan penurunan tajam nilai Toncoin (TON), kripto yang terkait dengan Telegram.

Koin TON Apa Kabar?

Begitu muncul berita penangkapan Durov, Toncoin pun anjlok berantakan dengan penurunan hampir 17 persen dalam waktu 24 jam, yakni dari US$ 6,80 menjadi US$ 5,61.

Padahal, Telegram sebenarnya sempat mengembangkan The Open Network secara internal. Namun, proyek tersebut terpaksa ditinggalkan pada tahun 2020, lantara tekanan regulasi.

Baca Juga: 10 Game Telegram Paling Ramai di Ekosistem TON Blockchain

Meski begitu, proyek ini terus berkembang dengan dukungan komunitas, dan Telegram sendiri semakin mengintegrasikan jaringan ini ke dalam platform mereka. Alhasil, proyek ini pun sempat mendorong harga Toncoin naik lebih dari 300 persen dalam setahun terakhir.

Kabar Penangkapan Durov

Durov yang berusia 39 tahun ditangkap, dengan tuduhan serius terkait aktivitas ilegal yang diduga terjadi pada platform Telegram. Menurut laporan media Perancis, Telegram dituding lalai mencegah pengguna yang terafiliasi dengan terorisme, penjualan narkoba, barang curian dan penipuan.

Tuduhan ini menyoroti kekhawatiran tentang bagaimana Telegram mengelola konten yang dihasilkan oleh penggunanya.

Penangkapan ini menarik perhatian besar, karena Durov biasanya menghindari bepergian ke negara-negara di mana Telegram berada di bawah pengawasan ketat. Dalam hal ini, seorang penyidik yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa Durov kemungkinan besar akan ditahan hingga proses persidangan dimulai.

Hingga saat ini pun, Telegram belum memberikan pernyataan resmi terkait penangkapan tersebut.

Reaksi Kedutaan dan Pejabat Rusia

Kedutaan Besar Rusia di Perancis memberikan pernyataan terkait penangkapan tersebut. Pihak kedubes menyatakan bahwa hingga kini pihaknya belum dihubungi oleh perusahaan tersebut. Namun, kedutaan saat ini tengah menyiapkan langkah cepat untuk mengonfirmasi kabar dari laporan tersebut.

Beberapa pejabat Rusia, seperti Mikhail Ulyanov yang merupakan perwakilan Rusia di organisasi internasional di Wina, menyatakan bahwa pihak Perancis berlaku otoriter.

“Orang-orang yang berperan dalam dunia informasi internasional perlu tahu bahwa mengunjungi negara-negara yang lebih totaliter bisa berisiko,” tulis Ulyanov di akun pribadi X-nya.

Disclaimer: Semua konten yang diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh artikel yang telah tayang di Cryptoharian bukan nasihat investasi atau saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.