Cryptoharian – Ethereum (ETH), kripto terbesar kedua di dunia saat ini sedang mengalami tekanan berat. Bagaimana tidak, rasio ETH/BTC yang merupakan ukuran yang menunjukkan seberapa kuat Ethereum dibandingkan Bitcoin, kini turun ke angka 0,022. Ini adalah level terendah sejak Desember 2020.
Artinya, nilai Ethereum terhadap Bitcoin telah turun lebih dari 73 persen sejak September 2022. Saat itu, rasionya masih di kisaran 0,085. Kini, harga ETH berada di kisaran US$ 1.880, turun 9 persen dalam seminggu terakhir dan sudah jatuh 62 persen dari puncaknya pada November 2021 yang hampir mencapai US$ 4.900.
Sementara itu, Bitcoin justru jauh lebih stabil. Melansir dari crypto.news, meski turun sekitar 10 persen sejak awal tahun, nilainya kini menembus US$ 84.000. Dibandingkan, penurunan Ethereum yang mencapai 46 persen di periode yang sama terlihat jauh lebih dalam.
Dominasi Ethereum Mulai Tergeser
Selama ini, Ethereum dikenal sebagai raja di dunia smart contract dan DeFi. Tapi sekarang, dominasi itu mulai terkikis. Blockchain seperti Solana, Avalanche dan Binance Smart Chain mulai mencuri perhatian.
Contohnya, pangsa pasar Solana dalam total value locked (TVL) naik dari 2,84 persen menjadi 7,24 persen dalam setahun terakhir. Sementara Ethereum turun dari 61 persen menjadi 52,5 persen. Artinya, makin banyak dana yang berpindah ke platform lain.
Ethereum masih banyak digunakan untuk aktivitas DeFi seperti staking dan yield farming. Tapi, pengguna aktif yang suka trading cepat atau berburu token baru (seperti koin meme), kini lebih banyak memilih Solana dan blockchain lain yang lebih murah dan cepat.
Meski biaya transaksi Ethereum (gas fee) sudah turun rata-rata 1,12 GWEI pada Maret 2025, jaringan ini masih terasa mahal dan lambat untuk transaksi kecil. Ethereum hanya memproses 10-62 transaksi per detik, sedangkan Solana bisa memproses lebih dari 4.000.
Baca Juga: Analisis 5 Kripto dengan Kapitalisasi Pasar Tinggi Pekan Ini: ETH, SOL, XRP, SHIB, DOGE
Skalabilitas Masih Jadi Masalah
Ethereum saat ini sudah beralih ke sistem proof-of-stake yang lebih ramah lingkungan sejak 2022. Tapi soal kecepatan dan skalabilitas, masalahnya belum selesai. Untuk mengatasi ini, Ethereum mengandalkan jaringan tambahan seperti Arbitrum, Optimism dan Base.
Layer-2 memang membantu menurunkan biaya, tanpa efek sampingnya, aktivitas semakin sedikit di jaringan utama Ethereum (mainnet). Ini berdampak pada berkurangnya biaya transaksi yang ‘dibakar, mekanisme yang dulu dianggap bisa membuat ETH jadi aset deflasi.
Sekarang, ETH kembali menjadi inflasi. Jumlah ETH yang beredar naik sekitar 0,5 persen per tahun. Imbal hasil staking juga makin kecil, di bawah 2,5 persen, kalah menarik dibanding stablecoin di platform DeFi lain yang bisa kasih imbal hasil di atas 4,5 persen.
Sentimen Pasar Mulai Negatif
Di pasar, Ethereum mulai kehilangan daya tarik. Posisi short (bertaruh harga turun) terhadap ETH naik 40 persen, pada Februari dan kini sudah melonjak lebih dari 500 persen sejak akhir 2024. Di sisi lain, arus dana masuk ke ETF Ethereum juga turun hampir 10 persen pada Maret.
Secara keseluruhan, dominasi pasar Ethereum kini turun di bawah 8,4 persen, terendah dalam empat tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa investor mulai beralih ke aset lain, termasuk Bitcoin dan proyek blockchain baru yang tumbuh lebih cepat.
Apakah Harga ETH Masih Bisa Naik?
Dari sisi teknikal, grafik harga ETH menunjukkan sinyal lemah. Setelah tiga kali gagal menembus level US$ 4.000, ETH kini kehilangan support penting dan turun di bawah garis tren yang sudah bertahan lama. Beberapa analis memperkirakan ETH bisa kembali turun ke kisaran US$ 1.000 – US$ 1060, seperti saat pasar kripto anjlok di 2022.
Namun, masih ada harapan. Trader terkenal, Michael van de Poppe, menyebutkan bahwa jika ETH bisa naik kembali dan menembus US$ 2.150, harga bisa naik hingga US$ 2.800. Penurunan nilai dolar Amerika juga bisa membantu mendorong pasar kripto dalam beberapa bulan ke depan.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.Selalu Melakukan Perdagangan di Exchange yang Legal di Indonesia (Di bawah Pengawasan OJK)



