Cryptoharian – Leverage kembali muncul sebagai mesin utama di balik momentum Bitcoin, dengan reli terbaru dipicu oleh short squeeze yang memaksa trader menutup posisi bearish dalam skala besar. Data dari Glassnode menyebut episode ini sebagai peristiwa likuidasi short terbesar di antara 500 aset kripto teratas sejak 10 Oktober 2025.
Di grafik, lonjakan likuidasi terlihat bergerak seiring dorongan Bitcoin ke puncak lokal. Ketika posisi short terhapus, pembeli balik (buyback) terjadi cepat, mendorong harga naik dan memperkuat tekanan ke atas. Intensitasnya meningkat karena Bitcoin mampu bertahan di level tertinggi alih-alih turun dan meredakan panas pasar.
Jika gelombang likuidasi berlanjut, Bitcoin masih berpeluang terdorong menuju area US$ 100.000 – US$ 105.000 hanya dengan momentum. Namun, pengalaman pasar menunjukkan reli yang ditenagai leverage sering rapuh.
Ketika funding mendingin dan open interest mulai ‘reset‘, harga cenderung masuk fase konsolidasi atau koreksi. Kunci keberlanjutan biasanya bukan seberapa besar squeeze, melainkan apakah permintaan spot mampu menggantikan peran leverage setelah euforia mereda.
Di sisi lain, pasokan dari pemegang lama, yang sering disebut “OG holders”, menunjukkan sinyal yang lebih mendukung stabilitas jangka pendek. Data STXO untuk koin yang dorman lebih dari lima tahun mengindikasikan perlambatan aktivitas belanja (spending) dari pemegang jangka panjang.
Selain itu, CryptoQuant juga menilai bahwa periode sebelumnya, di mana saat permintaan institusional dan pembelian pemerintah menjadi likuiditas keluar yang ideal, mendorong OG lebih aktif melepas aset. Namun pola tersebut kini berubah, yakni dari puncak aktivitas sekitar 3.800 BTC, lalu menurun ke US$ 3.200 BTC, kemudian 2.200 BTC.
Baca Juga: Tekanan Jual di Coinbase Mereda, Bitcoin Lanjut Naik
Dalam jangka pendek, meredanya tekanan jual OG mengurangi ‘overhead supply’ dan bisa membantu harga bertahan. Dalam jangka lebih panjang, perilaku ini sering dibaca sebagai tanda keyakinan. Namun yang menjadi masalah, yakni ketika penjualan organik menurun sementara leverage meningkat, pasar bisa terlihat kuat di permukaan tetapi lebih rapuh jika pemicu koreksi datang dari sisi derivatif.
Kontras paling jelas muncul pada perilaku whale dan ritel. Sejumlah data on-chain menyoroti divergensi, yakni ketika whale cenderung mengurangi long lebih dulu lalu beralih ke posisi short, sementara ritel justru menambah long ketika harga naik.
Pola semacam ini, menurut pembacaan pasar, biasanya mencerminkan perbedaan horizon dan disiplin resiko. Whale bereaksi pada kepadatan posisi dan strukturl, sedangkan ritel bereaksi pada candle hijau.
Contoh historis yang dikutip dari Alphractal menggambarkan dinamika tersebut, dengan Bitcoin mendekati US$ 69.000, whale disebut menutup long dan berbalik short, sementara ritel menumpuk long berleverage. Tak lama kemudian, Bitcoin terkoreksi hampir 20 persen dari US$ 69.000 ke US$ 56.000 sebelum stabil.
Pola ini tidak otomatis akan terulang, tetapi menegaskan satu pelajaran, yaitu ketika leverage menjadi bahan bakar utama, pergerakan naik maupun turun bisa cepat.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.








