Inflasi Tinggi ‘Paksa’ The Fed Kembali Lakukan Pengetatan Ekonomi, Bitcoin cs Bakal Runtuh atau Menguat?

Inflasi yang semakin tinggi di AS diprediksi tidak akan reda dalam waktu dekat. Terlebih, The Fed belum mengindikasikan untuk menurunkan suku bunga, justru semakin menguat.

Pakar ekonomi, Jeremy Sachs memperingatkan para investor untuk bersiap menghadapi pengetatan suku bunga lebih lanjut dari bank sentral AS.

Ia beralasan, penangguhan rantai pasokan serta krisis yang disebabkan perang antara Rusia dengan Ukraina yang didukung Eropa akan mendorong berbagai harga komoditas menjadi lebih mahal.

“Berharap The Fed menjadi agresif, karena inflasi tidak akan hilang begitu saja,” kata Sachs kepada “Street Signs Asia” CNBC pada Rabu (17/8/2022) lalu.

“Saya tidak berpikir (akan ada) kebijakan ‘lembut’ dari kenaikan suku bunga mampu menghentikan faktor pendukung tekanan inflasi yang kini sedang berlangsung,” ujarnya lagi.

The Fed sudah berkali-kali menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin dalam beberapa bulan yterakhir sebagai upaya mengendalikan inflasi di Amerika Serikat.

Pada Juli 2022 lalu, tingkat utama inflasi konsumen turun menjadi 8,5%. Namun, angka ini masih menunjukkan evel tertinggi dalam empat dekade.

Baca Juga: Pasar Kripto Alami Penurunan Pasca Pengumuman FOMC, Simak Selengkapnya

The Fed juga telah melakukan “pengetatan kuantitatif” dengan mengurangi neraca sekitar $95 miliar per bulan sebagai bantuan ekonomi AS yang memulihkan diri pasca wabah COVID-19.

“Akar inflasi ini benar-benar kembali ke awal pandemi – bahkan sebelum itu,” kata Sachs.

“The Fed benar-benar memompa jumlah uang beredar dengan luar biasa, terutama di bulan-bulan awal pandemi – ia ingin menghindari segala jenis krisis keuangan. Ia berhasil melakukan itu, tetapi mendorong banyak inflasi,” lanjut dia.

Meski demikian, ada banyak masalah lain yang tidak bisa dikendalikan Bank Sentral AS yang erpotensi mendorong harga bahan bakar semakin mahal.

Sanksi yang diberlakukan Barat terhadap Rusia sebagai balasan atas serangan ke Ukraina menyebabkan harga minyak dan gas naik secara signifikan.

Di saat yang sama, industri China belum bisa masih tertahan oleh lockdown yang diberlakukan guna mengekang penyebaran varian virus corona baru.

Sachs mengatakan, China saat ini masih fokus untuk menangani pandemi aga rantai pasokan kembali normal.

“Kami terus memicu guncangan sisi penawaran dengan perang, dengan sanksi, dan dengan ketegangan geopolitik,” kata ekonom itu.

Efek Inflasi dan Kebijakan The Fed Terhadap Bitcoin cs

Awal tahun ini, mayoritas kripto ambruk usai The Fed menaikkan suku bunga acuan. Hal ini disebabkan respon negatif investor yang menyebabkan sepuluh  big cap terkoreksi di kisaran 6% hingga 10%.

Namun, pada Juni lalu, Bitcoin cs secara mengejutkan justru menguat saat The Fed kembali menaikkan suku bunga.

Tren kripto tiap tahun terus mengalami kenaikan meski dengan tekanan peredaran dolar AS yang melimpah, dampak resesi pada 2008 silam.

Bursa kripto yang bergerak positif meski dengan tekanan The Fed memperlihatkan bahwa pelaku pasar kripto memiliki kepercayaan tinggi terhadap aset tersebut.

Secara teknikal, jika Bitcoin mampu bertahan di atas US$20.000 maka harga aset tersebut diprediksi memiliki prospek bagus hingga akhir tahun. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya.

Pengamat dari Swan bitcoin, Sam Callahan pada Juni lalu mengaku optimis Bitcoin masih mampu bertahan meski tak memungkiri bisa anjlok lebih dari 80% dari harga tertinggi sepanjang masa, seperti yang terjadi pada Desember 2018 lalu. [Im]

Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Youtube

Penulis yang senang mengamati pergerakan dan pertumbuhan cryptocurrency. Memiliki pengalaman dalam beberapa kategori penulisan termasuk sosial, teknologi, dan finansial. Senang mempelajari hal baru dan bertemu dengan orang baru.