Inilah 3 Alasan Mengapa harga Bitcoin yang Turun Bukanlah Tanda Bearish

Bitcoin telah mencapai Rp 190 juta pada 28 Oktober kemarin setelah menyentuh puncaknya di level Rp 200 juta. Meskipun turun 7% dalam 11 jam, namun, sentimen pasar tetap positif karena adanya tiga alasan utama.

3 Alasan Kenapa BTC tetap bullish

Pertama, Bitcoin masih di tempatnya pada 27 Oktober. Kedua, BTC naik menjadi Rp 200 juta, tepat di bawah area Resistance multi-tahun di Rp 200.500.000. Ketiga, penurunan di seluruh pasar diperkirakan karena penurunan aliran masuk Stablecoin ke bursa.

Bitcoin yang Masih Ditempatnya

Dalam dua hari terakhir, harga Bitcoin naik 5,5% dari Rp 190 juta menjadi Rp 200 juta di Indodax. Pergerakan tersebut terjadi setelah trend naik selama sebulan di mana BTC naik dari sekitar Rp 150 juta-an menjadi Rp 200 juta.

Sekarang, pada grafik berkerangka waktu tinggi – seperti grafik harian, misalnya – harga BTC masih melayang di atas indikator MA jangka pendek utama.

Pola Bitcoin baru-baru ini yang mengikuti setiap trend naik dengan fase konsolidasi yang membuat rally yang sedang berlangsung memegang potensi berkelanjutan.

Trend mingguan BTC masih berada di Uptrend, walaupun RSI Overbought, di trend bullish RSI tidak begitu akurat.

Karena masih berada di Uptrend, harga masih bagus berada di konsolidasi saat ini.

Area Resistance Multi-Tahun

Bitcoin mencapai puncaknya pada sekitar $ 13.900 pada Juli 2019 di seluruh bursa utama. Dan saat ini, ada banyak trader yang menunjuk level $ 13.875 (Rp 200.500.000) sebagai area Resistance penting dalam jangka pendek, sebagian karena alasan ini.

Jika BTC terus meningkat melampaui $ 13.875 tanpa adanya Pullback, yang akan menyebabkan rally menjadi sangat panas. Dalam jangka menengah, hal itu akan meningkatkan kemungkinan Pullback yang dalam, atau seperti yang disebut beberapa analis on-chain sebagai “candle neraka.”

Kurangnya Aliran Masuk Stablecoin

Sebelum koreksi jangka pendek Bitcoin, CEO CryptoQuant Ki-Young Ju memperingatkan bahwa aliran masuk stablecoin ke bursa telah menurun.

Arus masuk stablecoin adalah metrik yang akurat untuk mengukur permintaan pembeli karena stablecoin, seperti Tether (USDT), menyumbang sebagian besar volume pasar cryptocurrency.

Young Ju pun mengatakan:

“Lebih sedikit orang yang mendepositkan #stablecoin ke bursa. Daya beli BTC melemah dalam jangka pendek (72 jam).”

Penurunan arus masuk stablecoin mungkin telah memicu kemunduran Bitcoin yang tajam karena pembeli dan penjual berjuang secara intens selama seminggu terakhir. Beberapa penambang dan Whale menjual, sementara arus masuk baru terus menerus mengimbangi tekanan jual.

Selama, Bitcoin bisa menutup diatas Rp 190 juta, harga Bitcoin masih mungkin bisa menyentuh ATH atau Rp 225 juta atau lebih pada saat ini.


Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Twitter

Penggemar Cryptocurrency dan Mengembangkan Bisnis di Internet dan Percaya Bahwa Informasi Harus Disebarluaskan Secara Transparan. Tidur, Makan dan Tulis