Inilah 4 Ancaman Yang Berpotensi Mewujudkan Crypto Winter

Tidak bisa dipungkiri jika 2021 adalah tahun yang luar biasa untuk industri crypto. Sayangnya, hal terbaik tahun ini masih belum terlihat. Justru, penurunan nilai asset crypto terbesar, Bitcoin, yang mencapai 40% dari ATH-nya pada November 2021 lalu masih membayangi, dan diikuti oleh asset crypto lainnya yang juga mengalami menurunan nilai besar-besaran.

Beberapa analis menyebut kondisi ini sebagai ‘crypto winter’ yang akan terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama. Berikut adalah 4 ancaman terbesar untuk crypto di tahun 2022 :

  1. Kondisi Ekonomi Global

Bitcoin dirancang untuk memotong otoritas pusat seperti pemerintah dan bank untuk beroperasi, sebagaimana konsep desentralisasi itu sendiri. Tapi, hal itu justru sering kali menjebak komunitas crypto yang berpikir bahwa crypto kebal atas apapun di seluruh dunia.

Ketika crypto menjadi mainstream, ekonomi global justru yang akan berperan secara lebih signifikan. Seperti keputusan Fed yang mengeluarkan stimulus ekonomi selama pandemi menjadi salah satu faktor terpukulnya industry crypto.

Tujuan Fed adalah mengatasi inflasi, hal itu kemudian membuat investor kabur dari asset-aset yang berisiko lebih tinggi seperti crypto. Ditambah perseteruan antara Rusia dan Ukraina semakin memengaruhi ekonomi global.

  1. Regulasi

Regulasi yang semakin diperketat menghantui crypto akhir-akhir ini. Beberapa negara masih kebingungan untuk menangani industri ini tanpa melumpuhkannya.

Contohnya ketika Tiongkok menunjukkan sikap kerasnya kepada crypto pada Mei tahun lalu, otomatis membuat harganya anjlok. Sementara AS berencana mengikuti jejak Tiongkok, meski dengan regulasi yang lebih ketat.

Kekhawatirannya adalah beberapa proyek crypto menawarkan sesuatu yang sama seperti bank, dan juga memiliki kesamaan dengan investasi saham tetapi tanpa pelaporan dan persyaratan transparansi yang mencegah insider trading dan manipulasi pasar.

Baca Juga: Prediksi Harga FTT, LUNA dan RACA 25 Februari: Masih Bearish

Baca Juga: 30% Pasokan Bitcoin Merugi Karena Arus Bearish Saat Ini

Tantangan industri bernilai $2 triliun ini adalah banyak investor yang mungkin akan kocar-kacir jika regulasi berubah, apalagi jika regulasinya semakin ketat.

  1. Tether dan stablecoin Lain Berpotensi Kolaps

Tether menjadi salah satu bagian penting yang membuat parlemen AS ingin mengambil kontrol atas operasional stablecoin. Kekhawatiran akan utang jangka pendek Tether membuat Jim Cramer memnyerukan untuk menjual crypto pada Oktober lalu.

Sementara stablecoin mematok harga ke komoditas lain seperti emas – Tether mematok dolar AS. Artinya setiap USDT yang dikeluarkan harus senilai $1. Tether adalah stablecoin yang didukung fiat, ia harus punya uang cadangan untuk mendukung setiap token yang dikeluarkan.

Jadi investor harus tahu risiko apa yang ada pada Tether dengan uang mereka. Kapitalisasinya yang mencapai $79 miliar di pasar crypto membuat Tether butuh cadangan sebesar $79 miliar juga untuk mendukung peredarannya dalam bentuk USDT.

Tetapi Jaksa Agung New York, Letitia James menilai hal itu adalah sebuah kebohongan balaka, “kalin Tether bahwa mata uang virtualnya didukung penuh oleh dolar AS adalah bohong,” katanya. Tether sendiri menyangkal jika melakukan kesalahan dalam hal ini.

Laporan terbaru Tether sebanyak 10% tersimpan dalam bentuk tunai dan deposito bank, serta hamper setengah dari peredarannya berbentuk utang jangka pendek (surat berharga) sementara sisanya berbentuk treasury bill.

Hal itu mengundang keingintahuan kritikus tentang bagaimana Tether dialokasikan. Departemen Keuangan AS ingin meng-audit-nya guna memastika stbalecoin ini benar-benar memiliki cadangan yang diperlukan dan soal transparansi penyimpanannya. Ancaman bagi crypto adalah jika Tether gagal memenuhi berbagai persyaratan baru tersebut.

  1. Penipuan

Menurut chainalysis, rekor penipuan crypto mencapai $14 miliar tahun lalu. Investasi crypto dan asset digital menjadi yang paling terancam berdasarkan survei North American Securities Administrators Association. Aktivitas kriminal ini merusak kepercayaan investor institusional dan membuat trader cenderung tidak lagi menggunakan crypto sebagai alat pembayaran. 

Intinya, perjalanan crypto sudah semakin jauh dari tahun ke tahun tapi masih memiliki jalan Panjang penuh rintangan jika ingin memngeluarkan potensinya secara penuh.

Di satu sisi, secara sah crypto bisa mengubah cara kerja uang dan cara kerja internet, tapi banyak orang kehilangan milaran dolar karena crypto crime. Si Raksasa Tether justru hanya mendapati sedikit minat dan ketertarikan. Investor crypto terbiasa memikirkan risiko tapi penting juga untuk membuka pikiran untuk memikirkan hal yang lebih besar. Jika beberapa ancaman tersebut terjadi, maka crypto winter sulit dihindari.

Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Youtube

Penggemar Cryptocurrency dan Mengembangkan Bisnis di Internet dan Percaya Bahwa Informasi Harus Disebarluaskan Secara Transparan. Tidur, Makan dan Tulis