Inilah Tiga Model Harga Bitcoin Paling Kontroversial dan Prediksinya

Berita Bitcoin– Beberapa model dan teori untuk aset crypto Bitcoin (BTC) sangatlah banyak, karena setiap orang menginginkan metode efektif untuk mereka masing-masing guna meraih profit konsisten di pasar BTC.

Dan sejauh ini, ada tiga model harga yang sangat terkenal yang sering diperdebatkan dan dianggap kontroversial. Sebut saja model Stock-to-Flow (S2F), Hyperwave, dan Elliot Wave yang biasanya memberikan prediksi pergerakan harga besar dalam jangka menengah dan panjang.

Stock-to-Flow

Model harga Bitcoin yang pertama dan paling dikenal adalah Stock-to-Flow. Model S2F memprediksi tren jangka panjang dari nilai Bitcoin berdasarkan kelangkaannya.

Karena Bitcoin memiliki persediaan moneter tetap, proposisi nilai terbesar dari cryptocurrency dominan adalah kelangkaannya dan berkurangnya pasokan BTC.

Model ini menggunakan Stock-to-Flow emas dan perak sebagai patokannya. Istilah Stock-to-Flow mengacu pada aliran pasokan baru relatif terhadap jumlah pasokan beredar yang ada.

Model ini percaya nilai emas tertahan dari waktu ke waktu karena tidak mungkin untuk membuat yang baru sehingga akan mendongkrak nilainya dalam jangka panjang.

Model ini memprediksi kapitalisasi pasar Bitcoin akan melebihi $ 1 triliun setelah Halving Mei 2020 lalu.

Prediksi ini sejalan dengan kinerja Bitcoin setelah Halving sebelumnya pada 2012 dan 2016. PlanB, sang pencipta model ini, menjelaskan :

“Nilai pasar yang diprediksi untuk Bitcoin setelah Halving Mei 2020 adalah $ 1triliun, yang diterjemahkan dalam harga Bitcoin sebesar $ 55.000. Itu cukup spektakuler. Saya kira waktu akan memberi tahu dan kita mungkin akan tahu satu atau dua tahun lagi pasca Halving.”

Kritik utama pada model S2F ini ada pada dua argumen utama. Pertama, ada yang mengatakan asumsi bahwa nilai emas semata-mata berasal dari kelangkaan tidaklah akurat.

Kedua, yang lain berpikir bahwa penggunaan regresi linier dapat menyebabkan prediksi yang tidak tepat.

Elliot Wave

Ini adalah salah satu teori terlama dalam industri keuangan, dimana Elliot Wave sering digunakan oleh para analis teknikal untuk menentukan siklus suatu pasar.

Secara garis besar, teori ini menggambarkan sebuah siklus tren (Bearish atau Bullish) yang digerakan oleh faktor psikologi pasar.

Biasanya, Elliott Wave diterapkan dalam banyak skenario Bearish. Ini menyajikan pergerakan dalam delapan bagian, di mana harga aset akan menurun berdasarkan level demi level.

Teori ini pun juga sering dikritik karena dianggap sangat subyektif. Ini juga mengasumsikan bahwa pasar mengikuti dasar psikologi yang sama di berbagai kerangka waktu.

Karena itu, ini sering mengarah pada prediksi harga yang ekstrem untuk skenario Bearish dan Bullish.

Hyperwave

Teori Hyperwave, dipopulerkan di dalam pasar cryptocurrency oleh pedagang terkenal, Tone Vays, untuk menentukan pembentukan gelembung potensial di pasar.

Ini adalah siklus pasar tujuh bagian yang melihat pembalikan trend Bearish pada puncak reli harga. Struktur Hyperwave mirip dengan prinsip Elliott Wave, tetapi hanya berkaitan dengan skenario Bearish.

Prediksi harga berbasis gelombang ini sering dianggap kontroversial karena mereka selalu menganggap puncak suatu aset telah terpukul.

Akibatnya, ini sering mengarah pada prediksi ekstrem, menyerukan penurunan 80% hingga 90% dari suatu level puncak.

Sebagai contoh, Vays mengatakan bahwa ia menggunakan Teori Hyperwave pada awal 2018 untuk meminta target harga $ 1.500.

Selama satu setengah tahun berikutnya, harga Bitcoin turun dari sekitar $ 18.000 menjadi $ 3.100.

Secara garis besar, setiap model dan teori diatas ini memiliki keunggulan masing-masing dalam kondisi tertentu, sehingga kita perlu memvalidasi sendiri kondisi manakah yang cocok untuk menggunakan salah satunya untuk membaca kemungkinan harga dimasa depan.

Sumber

Penggemar Cryptocurrency dan Mengembangkan Bisnis di Internet dan Percaya Bahwa Informasi Harus Disebarluaskan Secara Transparan. Tidur, Makan dan Tulis