Cryptoharian – Harga Bitcoin (BTC) kembali turun ke US$ 107.400 pada Jumat, setelah mengalami penurunan tajam di level US$ 110.500 sehari sebelumnya. Melansir dari cointelegraph.com, koreksi 2,8 persen ini terjadi di tengah lonjakan arus masuk ke Bitcoin ETF Spot, yang mencatat inflow US$ 1 miliar hanya dalam dua hari.
Penurunan ini tampaknya tidak berkaitan langsung dengan pelemahan teknikal, melainkan lebih pada aksi ambil untung jelang akhir pekan. Terlebih, karena BTC sempat hanya berjarak 1,5 persen dari rekort tertingginya.
Namun, latar belakang makroekonomi global juga turut membayanginya. Pernyataan Presiden Amerika Donald Trump soal kenaikan tarif impor yang akan dimulai minggu depan menambah kekhawatiran investor akan dampak lanjutan dari perang dagang global.
Pergerakan Mendadak Wallet yang Tertidur Lama
Kepanikan pun semakin memuncak setelah salah satu dompet Bitcoin lama yang telah lama tidak aktif dilaporkan memindahkan 80.009 BTC pada hari Jumat. Menurut analis on-chain, aset tersebut kemungkinan berasal dari penambang tahun 2011 yang dulunya menyimpan lebih dari 200.000 BTC.
Meski wajar jika muncul kekhawatiran akan potensi aksi jual besar, beberapa analis menilai pergerakan ini justru mengurangi peluang penjualan langsung. Alasannya karena memindahkan sejumlah besar BTC secara terang-terangan justru beresiko mengganggu pasar dan memperburuk harga bagi penjual.
Baca Juga: Jika 1 Persen Aset Dunia Ditokenisasi Gunakan XRP, Ini Proyeksi Harganya
Bahkan jika transaksi ini merupakan bagian dari kesepakatan over-the-counter (OTC), kemungkinannya kecil bahwa pembeli akan langsung menyerap aset senilai US$ 4,3 miliar dalam satu kali transaksi. Sebagai perbandingan, perusahaan seperti Strategy hanya menambah 17.075 BTC sepanjang tahun ini.
Perlu dicatat juga, perpindahan dompet lama bukanlah fenomena baru. Pada Mei lalu, wallet dari tahun 2013 memindahkan sebesar 3.420 BTC. Kasus serupa juga pernah terjadi pada November 2024 (2.000 BTC), Maret 2024 (1.000 BTC) dan November 2023 (6.500 BTC) tanpa menyebabkan pembalikan tren jangka panjang.
Ketidakpastian Ekonomi Amerika Jadi Tekanan Terbesar
Sentimen utama yang menekan Bitcoin tampaknya lebih bersumber dari kekhawatiran ekonomi makro. Michael Hartnett, Chief Investment Strategist Bank of America, bahkan menyarankan pengurangan eksposur jika indeks S&P 500 menyentuh 6.300, mengingat munculnya resiko gelumbung aset setelah permintaan Amerika menyetujui paket fiskal senilai US$ 3,4 triliun.
Bloomberg melaporkan bahwa prospek fiskal Amerika yang memperburuk dapat mengurangi minat terhadap obligasi pemerintah jangka panjang, yang berdampak pada pasar aset beresiko secara umum, termasuk Bitcoin.
Pada saat yang sama, pemerintahan Trump dikabarkan mulai mengirim pemberitahuan tarif sepihak ke sejumlah negara, jika kesepakatan perdagangan tidak tercapai sebelum tenggat waktu minggu depan.
Dengan latar belakang ini, koreksi Bitcoin dari level US$ 110.000 lebih logis jika dikaitkan dengan ketidakpastian global ketimbang faktor internal industri kripto itu sendiri.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.








