Korelasi Bitcoin Dan Emas Menguat, Apakah Bagus Untuk Bitcoin?

Cryptoharian.com- Sepanjang tahun 2020, Bitcoin (BTC) telah naik lebih dari 250%. Dari penurunan di bulan Maret Rp 60 juta-an hingga Rp 175 juta pada bulan Juli.

Ketika Bitcoin turun di Rp 60 juta, pasar BTC berkorelasi positif dengan pasar saham.

Namun, pada saat ini, Bitcoin menunjukkan korelasi yang sangat kuat dengan emas dan perak.

Harga Bitcoin menjadi Rp 175 juta per koin ketika emas mencapai Rp 1 miliar per kilogram.

Pada pagi ini, harga emas masih kian naik, begitu juga dengan BTC.

Logam mulia tersebut telah menunjukkan kinerja yang sangat mengesankan sepanjang tahun, terutama setelah semua aset tradisional jatuh pada 12 Maret atau dikenal dengan Black Thursday. Sejak saat itu, emas telah berhasil meningkatkan nilai terhadap dollar hampir 40%.

Menurut JPMorgan Chase & Co, boomers (orang yang lahir antara tahun 1948 dan 1960) lebih suka berinvestasi di emas dan obligasi.

Sementara, generasi yang lebih muda lebih banyak mengalokasikan dana mereka di aset yang lebih berisiko, seperti saham dan cryptocurrency, terutama Bitcoin.

Pada akhirnya, para analis menguraikan bahwa kedua generasi menunjukkan perbedaan yang sangat berbeda dan menyimpulkan bahwa “generasi tua lebih memilih emas sementara generasi mudah lebih memilih Bitcoin.”

Baca Juga: BTC Kembali Ke $11.500, Apakah Akan Naik Lagi?

Apakah Bagus Untuk Bitcoin?

Banyak yang menganggap positif korelasi dengan emas sangat bagus untuk Bitcoin.

Karena ini membuat fundamental Bitcoin sebagai aset save haven atau lindung nilai bekerja dengan baik.

Kedua Bitcoin dan emas mempunyai batas pasokan, yang akan membuat kedua aset tersebut langka.

Ini membuat orang lebih suka untuk memegang (HODL) Bitcoin daripada menggunakan uang kripto tersebut layaknya seperti uang fiat.

Banyak orang yang mempunyai Bitcoin mendukung ini karena dengan pasokan terbatas dan permintaan bertambah, harga akan naik.

Di sisi lain, ini sangat kontradiksi dengan pencipta BTC, Satoshi Nakamoto.

Dia bermaksud Bitcoin untuk dijadikan layaknya sebagai uang fiat, digunakan untuk melakukan transaksi. Terdesentralisasi, tidak dikontrol oleh pemerintah.

Didalam Whitepaper Bitcoin menulis:

Bitcoin adalah versi uang elektronik murni peer-to-peer yang akan memungkinkan pembayaran online dikirim langsung dari satu pihak ke pihak lain tanpa melalui lembaga keuangan.

Namun, pada saat ini, sangat susah untuk menggunakan Bitcoin karena harga yang fluktuatif dan tidak banyak toko atau perusahaan yang menerima, terlebih lagi di Indonesia.

Lambat laun, namun pasti, lebih banyak perusahaan yang mengadopsi uang kripto.

Contohnya adalah eberapa cafe di Singapura menerima pembayaran Bitcoin, pembelian Lamborghinis atau rumah mewah di Amerika bisa menggunakan uang crypto.

Kapan di Indonesia menerima Bitcoin, layaknya uang fiat?

Baca Juga: Coca-Cola akan Menggunakan Teknologi Blockchain Ethereum

Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Youtube

Trader Forex dan Bitcoin yang sudah bergelut di bidang trading dari tahun 2013. Sering menulis artikel tentang blockchain, forex dan cryptocurrency.