Kripto Tetap Dapat Dukungan Edward Snowden, Snoop Dogg Hingga Mike Tyson Meski Terus Anjlok, Apa Alasannya?

Dua tahun belakangan ini adalah masa-masa yang sulit bagi investor kripto, tidak terkecuali yang berinvestasi pada Bitcoin (BTC).

Kripto dengan pasar terbesar ini sempat mencapai titik tertinggi sepanjang masa di $68.789 pada November 2021 silam, sebelum akhirnya turun drastis berkisar US$20.000.

Namun, meski dengan sejumlah keraguan yang disampaikan sejumlah pengamat. Tidak sedikit investor elit AS yang percaya bahwa BTC akan kembali memperlihatkan potensinya, seperti Kevin O’Leary, Edward Snowden, Snoop Dogg hingga legenda Mike Tyson.

“Ini seperti kebakaran hutan. Saat kebakaran telah usai dan tanah sudah bersih, sesuatu akan tumbuh lagi,” kata eks kontraktor CIA Edward Snowden pada Juni lalu.

Sentimen positif juga disampaikan selebriti yang berinvestasi di pasar kripto seperti Kevin O’Leary.

Dalam sebuah wawancara dengan CNBC pada Juni lalu ia percaya pasar kripto akan kembali bergerak positif didukung dengan ide-ide brilian baru yang datang dari komunitas terkait.

Menurut investor Shark Tank itu, saat ini ada banyak lulusan baru yang tidak lagi tertarik di sektor ekonomi utama dan memilih untuk mengembangkan ‘hal baru’.

O’Leary juga menyebut, saham Amazon pernah terkoreksi hingga 50% dalam sehari selama 12 tahun sebelum akhirnya menjadi perusahaan raksasa seperti sekarang.

Meski dengan dukungan para pesohor tersebut, tidak dapat disangkal bahwa nilai kripto sangat jatuh tahun ini.

Pembawa acara dalam Podcast yang banyak membahas blockchain ‘More Than Money’ mengungkapkan sejumlah alasan kripto terus turun.

Pertama, yakni Inflasi dan perkembangan ekonomi yang memburuk tidak bisa ditanggulangi secara baik oleh pemegang kuasa di berbagai negara di dunia hingga memicu penjualan massal di berbagai aset, tidak hanya kripto.

Ketidakstabilan ekonomi yang terjadi saat ini juga semakin memperlihatkan kelemahan kripto yang menurut Thompson, tidak stabil.

“Banyak perusahaan terbesar di ruang cryptocurrency memiliki model bisnis yang sangat berisiko tinggi dan leverage yang berlebihan,” ujar Thompson.

Sementara, profesor FinTech di Rutgers Business School, Merav Ozair mengatakan, Crypto Winter yang saat ini tengah terjadi adalah bagian dari spekulasi pasar dan bukan hal yang luar biasa.

“Hari ini, pasar crypto sangat berkorelasi dan selaras dengan semua yang terjadi dalam ekonomi dan dengan kelas aset lainnya. Jadi jika semuanya menderita, pasar crypto juga akan menderita” kata Ozair.

Survei yang dilakukan Voyager Digital pada awal tahun ini menunjukkan sekitar 64% orang Amerika percaya industri kripto akan kembali menguat dan 37% diantaranya mengaku akan membeli aset tersebut tahun 2022. Mereka juga percaya kripto akan semakin diterima masyarakat.

Ozair juga mengatakan, teknologi Blockchain sedang berada di tahap awal, sebagaimana awal perkembangan internet dot com pada awal milenium lalu yang mana kerap terjadi crash.

Saat ini, sejumlah perusahaan diklaim sudah mulai menggunakan teknologi blockchain. Salah satunya akusisi Moody atas 360company AG, sebuah platform untuk verifikasi bisnis global.

Namun, ada pula kritik yang disampaikan terhadap industry kripto. Ekonom pemenang Hadiah Nobel dan kolumnis New York Times, Paul Krugman menganggap kripto tidak bisa menjadi bagian dari kehidupan manusia karena teknologinya yang jadul.

“Pada saat teknologi menjadi setua cryptocurrency, kami berharap itu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari atau telah ditinggalkan,” tulis Krugman yang kerap menyoroti industri kripto. [Md]

Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Youtube