Lebih dari 75% Lembaga Keuangan Ingin Menggunakan Aset Kripto Pada 2025

Penelitian terbaru yang dilakukan Ripple menunjukkan, 76% lembaga keuangan berencana menggunakan kripto sebagai salah satu aspek operasional dalam tiga tahun ke depan.

Meski demikian, lembaga terkait diperkirakan masih akan melaukan riset dalam pengembangan kripto, termasuk dalam aturan hukum.

Dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa 20% konsumen global memilih untuk membeli aset kripto yang memilii prospek jangka panjang.

Namun, tidak semua investor memahami bahwa aset digital mana yang menggunakan mekanisme konsensus Proof-of-Work (POW) membutuhkan sedikit energy penambangan.

Pandangan Ripple terhadap Tren Crypto Terbaru

Saat ini, diperkirakan sekitar tiga perempat dari lembaga keuangan global memiliki minat tinggi terhadap aset kripto dan pengembangannya.

Namun, saat ditanya alasan kenapa belum memutuskan untuk terjun ke ‘dunia kripto’, mereka menjawab,”ketidakjelasan regulasi dan tingginya kejahatan siber yang mengincar kripto” sebagai alasan mereka.

Selain itu, 65% responden mengakui bahwa mereka cenderung memilih bitcoin atau altcoin jika lembaga keuangan lokal mereka menyediakan layanan seperti itu, sementara hanya 17% yang mengatakan ini tidak masalah. Riset ini tentu bisa jadi dasar sebelum lembaga keuangan memulai bisnis kripto mereka.

Untuk diketahui, sebagian dari entitas moneter telah berubah menjadi HODLer selama bertahun-tahun. Separuh dari mereka memilih aset digital karena dianggap memiliki nilai lindung yang baik terhadap inflasi.

Di Amerika Latin, perusahaan atau indvidu memiliki ketertarikan cukup tinggi dengan aset digital, terutama kripto. Diperkirakan ebih dari 50% dari mereka optimis kripto akan berdampak besar pada ekonomi masa depan. Di Eropa, 35% warganya percaya hal serupa.

NFT dan CBDC

Penelitian Ripple ini juga turut membahas potensi token non-fungible (NFT) dan mata uang digital bank sentral (CBDC). Dalam beberapa bulan terakhir, meski disambut cukup antusias, ternyata masih cukup banyak kalangan yang belum memahami kedua aset tersebut dengan benar,

Mayoritas dari mereka yang mengetahui manfaat NFT mengatakan bahwa mereka akan membeli produk tersebut karena manfaat fungsional (79%) daripada manfaat emosional (45%).

Mereka menganggap NFT tidak jauh berbeda dengan sebuah karya layaknya lagu, permainan atau olahraga. Sementara, yang lain menganggap NFT sebagai koleksi masa depan dari budaya pop terkini.

Melalui penelitian ini, Ripple turut menguraikan pro dan kontra dari CBDC serta mendengarkan kritik dan saran dari para pengguna.

Menurut mereka, masyarakat berharap, baik aset digital maupun CBDC diharapkan bisa digunakan tidak hanya secara cepat tapi juga dengan jaringan yang luas.

“Mereka memanfaatkan teknologi dasar yang sama yang mendorong aset digital baru yang efisien seperti crypto, mereka dapat digunakan untuk pembayaran lintas batas dengan lebih sedikit gesekan dan biaya dibandingkan dengan solusi tradisional.

Dan akhirnya, karena dapat dengan mudah dikelola, mereka dapat mendukung implementasi berbagai kebijakan moneter yang kuat dan cepat,” pungkas Ripple.

Namun demikian, CBDC yang digaungkan pemerintah di berbagai Negara tentu tidak akan memberi penawaran seperti Bitcoin atau Altcoin yang bebas. CBDC jelas akan diawasi oleh pemerintah.

Diperkirakan, 36% perusahaan dalam survey ini percaya bahwa CBC CBDC akan memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat, sementara 34% lainnya juga optimis teknologi ini meningkatkan jaringan ekonomi. Sementara sisanya percaya aset ini membuat bisnis semakin berkembang pesat. [Im]

Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Youtube

Penulis yang senang mengamati pergerakan dan pertumbuhan cryptocurrency. Memiliki pengalaman dalam beberapa kategori penulisan termasuk sosial, teknologi, dan finansial. Senang mempelajari hal baru dan bertemu dengan orang baru.