Membayar Ethereum Senilai Rp 36 Miliar Untuk Mengirim Rp 1.8 juta? Apa Yang Terjadi?

Bayangkan jika anda mengirim uang Rp 2 juta-an dan biayanya Rp 36 miliar?

Pengguna atau perusahaan yang tidak dikenal telah mengirim $ 130 dalam Ethereum (ETH) pada 10 Juni. Transaksi ini telah mengejutkan komunitas crypto karena biaya transaksinya.

Transaksi tersebut memiliki biaya lebih dari 10.000 ETH, atau setara dengan $ 2,6 juta atau Rp 36 miliar.

Di jaringan blockchain Ethereum, pengguna dapat mengirim dan menerima pembayaran crypto atau kontrak pintar dengan membayar biaya kepada penambang.

Menurut ETH Gas Station, biaya yang disarankan untuk transaksi standar adalah $ 0,153, dan untuk transaksi yang lebih cepat, biayanya bisa mencapai $ 0,2.

Tetapi, pembayaran Ethereum yang menghebohkan ini, telah melampirkan biaya yang berkali-kali lipat lebih besar dari biaya yang disarankan.

Sangat mungkin bahwa pengiriman ini adalah salah satu cara untuk pencucian uang atau hanya kesalahan belaka.

Baca Juga: 80% dari Pasokan Ethereum dalam Posisi Menguntungkan, Apa Artinya Bagi ETH?

Pendiri Ethhub, Anthony Sassano menjelaskan:

“Itu bisa saja suatu kesalahan, semacam pencucian uang. Itu ditambang oleh SparkPool sehingga mereka dapat mengirim ETH itu kembali ke pemilik aslinya jika mereka mau.”

Siapa yang melakukan transaksi ini?

Alamat yang membuat transaksi tersebut menyimpan lebih dari 46.000 ETH pada saat ini.

Kemungkinan besar bahwa alamat ini dimiliki oleh sebuah pialang crypto, jika dilihat dari riwayat transaksi dan juga frekuensi transfer.

Apa yang akan terjadi dengan 10.000 ETH?

Transaksi tersebut sudah masuk ke blok 10237208. Blok ini ditambang oleh SparkPool, sebuah perusahaan tambang ETH.

SparkPool mengatakan bahwa mereka sedang melakukan investigasi tentang kejanggalan ini. Mereka meyakinkan bahwa pasti ada solusi dengan masalah tersebut.

Jaringan blockchain publik seperti Ethereum yang sepenuhnya terdesentralisasi tidak dapat membatalkan transaksi atau kontrak pintar.

Beberapa pihak menganggapnya sebagai salah satu kelemahan dari aset crypto yang terdesentralisasi. Mereka agak memaksa pengguna untuk sepenuhnya bertanggung jawab atas transaksi karena tidak ada pihak ketiga atau entitas pusat untuk campur tangan.

Namun, keuntungan dari blockchain publik adalah bahwa semua data di jaringan sepenuhnya transparan. Itu artinya, masih memungkinkan untuk menentukan alamat mana yang mengirim dan menerima transaksi.

Jika alamat tersebut dikenal, seperti pertukaran atau alamat kumpulan pertambangan, maka mungkin bisa untuk mencoba menyelesaikannya langsung antara kedua pihak.


Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Twitter

Penggemar Cryptocurrency dan Mengembangkan Bisnis di Internet dan Percaya Bahwa Informasi Harus Disebarluaskan Secara Transparan. Tidur, Makan dan Tulis

Tinggalkan komentar