CryptoHarian
Poolin Technology, Eks Raksasa Mining Ajukan Bangkrut

Poolin Technology, Eks Raksasa Mining Ajukan Bangkrut

Cryptoharian – Poolin Technology, perusahaan yang pernah menjadi salah satu pengelola mining pool Bitcoin terbesar di dunia, mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 di Amerika Serikat.

Pengajuan dilakukan pada 22 Juli 2026 di Pengadilan Kepailitan AS Distrik New Jersey. Perkara itu diajukan bersama dua afiliasinya, yakni Lonestar Dream Inc. dan Lonestar Taproot LLC.

Dalam dokumen pengadilan, perusahaan memperkirakan memiliki 10.001 hingga 25.000 kreditur. Aset perusahaan induk tercatat berada di rentang US$1 juta hingga US$10 juta.

Sementara itu, kewajiban perusahaan diperkirakan jauh lebih besar, yakni US$100 juta hingga US$500 juta.

Poolin Technology Punya Kewajiban US$173 Juta

Deklarasi Chief Restructuring Officer Poolin, Michael DuFrayne, memberikan gambaran lebih rinci mengenai kondisi perusahaan. Total kewajiban sebelum pengajuan kebangkrutan disebut mencapai sekitar US$173,1 juta.

Bagian terbesar berasal dari surat pengakuan utang atau IOU kepada pengguna Poolin Wallet. Nilainya mencapai sekitar US$163,7 juta.

Utang itu muncul setelah Poolin Wallet mengalami krisis likuiditas dan menghentikan penarikan pada September 2022. Setelah penghentian tersebut, perusahaan menerbitkan IOU untuk mewakili saldo pelanggan yang belum bisa dicairkan.

Saat instrumen IOU diterbitkan, sekitar 11.700 pengguna tercatat memiliki saldo lebih dari US$100.

Chapter 11 Dipakai untuk Likuidasi

Pengajuan Chapter 11 oleh Poolin Technology kali ini tidak diarahkan untuk menghidupkan kembali bisnis seperti sebelumnya. Poolin Technology berencana menggunakan proses kepailitan untuk menjual aset secara teratur, menghentikan kegiatan operasional, dan menyusun rencana likuidasi.

Dengan skema itu, hasil penjualan aset nantinya diharapkan dapat dibagikan kepada kreditur. Kelompok kreditur tersebut termasuk pemegang IOU Poolin Wallet.

Namun, nilai pembayaran kepada pengguna belum dapat dipastikan. Jumlah akhir akan bergantung pada harga penjualan aset, biaya administrasi kepailitan, klaim kreditur lain, dan persetujuan pengadilan atas rencana likuidasi.

Proses ini membuat posisi pengguna Poolin Wallet masih menunggu hasil lelang dan penyelesaian klaim dalam perkara kepailitan.

Aset Tambang Bitcoin Texas Akan Dijual

Sebagai bagian dari proses Chapter 11, Poolin Technology berencana menjual dua fasilitas pertambangan Bitcoin di Texas Barat. Lokasinya berada di Pyote, Ward County, dan Tarbush, Pecos County.

Sebelum perkara diajukan, penasihat restrukturisasi telah memasarkan aset tersebut kepada lebih dari 335 calon investor dan pembeli. Proses itu menghasilkan 28 perjanjian kerahasiaan dan tujuh surat minat.

Calon pembeli yang berminat berasal dari beberapa sektor. Di antaranya perusahaan infrastruktur kecerdasan buatan, komputasi berkinerja tinggi, dan penambang kripto.

Thor CALAP LLC telah mengajukan tawaran awal sebesar US$15 juta untuk aset Pyote dan US$37 juta untuk aset Tarbush. Total tawaran awal itu mencapai US$52 juta.

Tawaran tersebut berstatus stalking-horse bid. Artinya, tawaran itu menjadi harga dasar dalam proses lelang, tetapi masih dapat dikalahkan oleh calon pembeli lain.

Setiap transaksi tetap membutuhkan persetujuan pengadilan.

Baca Juga: Bitcoin Hadapi Tekanan dari Sektor Mining yang Melemah, Kata Founder Alphractal

Operasi Mining Sudah Dihentikan

Operasi penambangan dan layanan hosting di dua lokasi Texas telah dihentikan sejak 10 Juli 2026. Setelah penghentian itu, perusahaan hanya mempertahankan tenaga kerja terbatas.

Tenaga kerja tersebut digunakan untuk menjaga fasilitas, mengamankan peralatan, dan mendukung proses penjualan aset.

Fasilitas di Texas menjadi bagian penting dalam kisah ekspansi Poolin Technology setelah tekanan regulasi di China. Poolin didirikan pada 2017 dan berkembang cepat hingga pada September 2019 dianggap sebagai mining pool kripto terbesar di dunia.

Selain mengelola aktivitas penambangan, Poolin juga membangun Poolin Wallet. Layanan itu menawarkan pinjaman USDT dengan jaminan aset kripto serta produk simpanan berbunga.

Model bisnis tersebut kemudian menghadapi tekanan besar ketika pasar kripto turun dan likuiditas pelanggan terganggu.

Tekanan Datang dari China dan Pasar Kripto

Masalah Poolin Technology membesar setelah pemerintah China melarang penambangan Bitcoin pada Mei 2021. Setelah itu, Poolin memindahkan fokus operasional ke Amerika Serikat dan mengembangkan fasilitas pertambangan di Texas.

Namun, proyek di Texas tidak berjalan sesuai proyeksi awal. Poolin semula memperkirakan dua lokasi tambangnya dapat memperoleh alokasi listrik hingga 600 megawatt.

Pada tahap awal, kapasitas yang didapat hanya 100 megawatt. Selisih itu membuat perusahaan telanjur memesan terlalu banyak mesin tambang.

Kelebihan peralatan akhirnya dijual dengan harga diskon. Catatan internal yang belum diaudit menunjukkan kerugian penjualan peralatan sekitar US$8,8 juta selama tahun fiskal 2023 hingga 2025.

Tekanan juga datang dari penurunan pasar kripto pada 2022. Poolin meminjam sekitar US$213 juta dari Antalpha dengan jaminan aset kripto yang saat itu bernilai sekitar US$355,8 juta.

Ketika harga aset digital terus turun, jaminan tersebut akhirnya dilikuidasi pada November 2022.

Dua afiliasi Poolin di Texas tercatat membukukan kerugian kumulatif sekitar US$45,9 juta sejak didirikan. Meski nilai buku bersih properti, pabrik, dan peralatan salah satu afiliasi tercatat sekitar US$41,7 juta per Mei 2026, nilai realisasi akhirnya akan ditentukan melalui lelang.

Dalam perkara Chapter 11 ini, Poolin Technology mencatat kewajiban sekitar US$173,1 juta, termasuk IOU Poolin Wallet sekitar US$163,7 juta, sementara tawaran awal untuk dua aset tambang Bitcoin di Texas mencapai US$52 juta.

Disclaimer: Semua konten yang diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh artikel yang telah tayang di Cryptoharian bukan nasihat investasi atau saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.Selalu Melakukan Perdagangan di Exchange yang Legal di Indonesia (Di bawah Pengawasan OJK)