Potensi Hadapi Depresi Ekonomi, Aset Kripto Jadi Solusi?

Cryptoharian – Sejumlah pengamat memperkirakan bahwa FOMC (Federal Open Market Committee) akan menerapkan standar 50 basis poin. Aturan tersebut berarti akan adanya kenaikan bunga yang berlaku di industry perbankan dan masyarakat.

Di saat bersamaan, potensi tersebut juga baru akan terjadi dalam waktu yang cukup panjang. Pasalnya, Amerika Serikat akan kembali menjalani pemilihan umum pada November 2024 mendatang.

Kedua hal tersebut berkaitan sebab FOMC diperkirakan tidak akan mengambil langkah moneter ekstrem di sekitar momen pemilu. Hal tersebut berlaku pada partai republik ataupun demokrat.

Pengamat aset kripto dan kebijakan moneter, Gareth Soloway mengungkapkan hal tersebut sebagai tindakan main aman.

“Pasalnya pihak-pihak tersebut tidak ingin menjadi kambing hitam dari risiko moneter yang akan terjadi” ujar Gareth dalam wawancara yang dilakukan Everyday Crypto pada Sabtu, 25 Juni 2022 lalu.

Ia memperkirakan bahwa FOMC justru akan melakukan perlambatan laju ekonomi di Amerika Serikat. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko inflasi yang dapat semakin memburuk.

Strategi tersebut dianggapnya berkaitan dengan harga minyak dunia yang berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi.

“Perminyakan membawa keluar uang dari sistem. Semakin sedikit jumlah uang yang beredar, maka akan lebih lambat pergerakan ekonomi yang terjadi,” ujar Gareth.

Dalam analisanya, ia juga mengungkapkan bahwa hal tersebut akan menjadi rantai panjang dalam penurunan permintaan minyak.

“Kita mengamati (harga normal, red) minyak berada pada kisaran tertinggi USD124 per barel. Sementara saat ini nilainya hanya berkisar USD106,” ucap Gareth.

Soloway memperkirakan bahwa harga minyak dunia akan semakin turun akibat pergerakan ekonomi yang terus melambat. Hal tersebut bahkan diperkirakannya sebagai potensi awal resesi ekonomi Amerika Serikat.

“Di awal 2023, kita akan mengalami resesi dan FOMC berpotensi akan semakin melemah, khususnya apabila inflasi mencapai 4-5% saat itu,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa tantangan di masa yang akan datang tidak hanya sebatas resesi, melainkan tingkat pengangguran Amerika Serikat yang juga turut melonjak.

“Saat ini pengangguran berada pada jumlah yang sangat rendah, sementara inflasi sangat tinggi. Hal yang umum ditempuh adalah menyeimbangkan neraca,” ucapnya menganalisa.

Dalam keterangan lanjutannya, ia memprediksi kebijakan moneter akan berdampak pada meningkatnya jumlah pengangguran dan hal tersebut akan terjadi berulang hanya untuk menghindari kemungkinan terburuk.

“Saat inflasi melonjak kembali, bunga akan meningkat. Sebaliknya, apabila pengangguran bertambah, kebijakan moneter akan menempatkan bunga rendah sebagai stimulus ekonomi,” ujar Gareth.

Menurut Gareth, hal tersebut cenderung hanya akan berulang-ulang dan tidak menjadi solusi konkret bagi negara. Kondisi demikian juga menjadi pertanda dari akan segera berakhirnya sistem ekonomi konvensional yang berlaku saat ini.

“Sebab negara tentu tidak ingin mendorong situasi memasuki depresi ekonomi,” tegasnya.

Ia mengungkapkan bahwa tidak terdapat hasil akhir positif yang benar-benar dapat diraih.

“Anda perlu memulai ulang, Amerika Serikat memulai ulang berbagai hal yang akhirnya runtuh’” ujarnya.

Gareth mengungkapkan bahwa masyarakat telah bersabar mendukung hal yang sebelumnya diasumsikan memasuki kondisi stabil. Pada kondisi stabil yang menjadi perkirakan, masyarkat menaruh harapan dan dukungan pada konsep saat ini.

“Namun pada situasi ekonomi saat ini, adalah titik yang jelas bahwa ekonomi Amerika Serikat akan mengalami depresi,” ujar Gareth.

Ia menerangkan bahwa situasi yang diperkirakannya merupakan hal yang menyedihkan. Gareth juga menyebutkan bahwa sejumlah pengamat mengatakan bahwa setiap generasi akan mengalami depresi ekonomi.

“Depresi terakhir terjadi pada 1930 dan tidak banyak saksi hidup yang mengingat momen tersebut,” jelasnya.

Gareth mengungkapkan bahwa terdapat siklus empat tahunan yang lazimnya diketahui publik. Siklus tersebut menjadi rekam jejak ekonomi dan moneter, khususnya di Amerika Serikat.

“Siklus empat tahunan membuktikan bahwa pada 2009 terjadi pertumbuhan awal. Hal tersebut berlanjut dengan puncak awal di 2013 dan masih terus meninggi hingga 2021 yang menjadi titik puncak terakhir,” ujar Gareth.

Ia menjelaskan bahwa saat ini masyarakat memiliki dukungan teknis yang menempatkan seorang trader untuk bertahan pada siklus empat tahunan tersebut. Gareth mengisyaratkan agar investor bertahan dengan asetnya pada kondisi nilai rendah.

“Hal serupa juga terjadi pada Bitcoin yang menurun pada setahun awal periode empat tahunan tersebut,” jelasnya.

Analisanya berlanjut dengan perkiraan bahwa situasi Bitcoin akan terus bersambung dengan gejolak enam bulan berikutnya hingga akhirnya fase tersebut berakhir.

“Gelombang-gelombang tersebut akan berulang dalam beberapa periode 6 bulanan selanjutnya,” ujar Gareth.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bahkan bertahan selama beberapa tahun. Pola tersebut yang harus menjadi perhatian investor untuk memperkirakan penurunan lanjutan yang dapat terjadi. [Im]

Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Youtube