CryptoHarian

Sejumlah Trader Kripto di Jatim Pilih Short, Ini Alasannya

Cryptoharian – Sebuah perdebatan muncul di kalangan trader mupun investor aset kripto. Pasalnya, banyak yang menyebut bahwa posisi Bitcoin (BTC) saat ini sudah mencapai bottom dan sudah waktunya bull run. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang menyatakan bahwa pergerakan BTC akan mengalami fake out. 

Mengenai hal ini, tim Cryptoharian berdiskusi bersama beberapa trader kripto dari sejumlah daerah di Jawa Timur. Hasilnya 4 dari 5 narasumber menyatakan bahwa pasar akan turun kembali ke harga yang lebih rendah. Karena itulah, mereka memanfaatkan euforia kenaikan kripto ini untuk melakukan short dan mengambil keuntungan tipis. 

Salah satunya Samuel (27) pemuda asli Malang yang telah berinvestasi mata uang kripto selama lima tahun, menyatakan bahwa dirinya lebih memilih untuk mengambil posisi short. Hal ini, didasari pendapatnya terkait permasalahan yang terjadi pada Digital Currency Group (DCG) dan anak perusahaannya, Gemini yang saat ini sedang berurusan dengan Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC). 

“Penularan dari kelanjutan FTX ini masih belum selesai. DCG saja belum jelas gimana akhirnya. Kalau logika dasarnya, DCG bangkrut dan kripto bakal turun lagi. Simpel. Tapi karena euforia CPI kemarin, ya saya juga gak mau melewatkan kesempatan untuk mengambil keuntungan,” ungkap Samuel. 

Hal senada juga disampaikan oleh Nadia (25) yang menjelaskan bahwa penyebab lain yang bakal menjadi penurunan dari BTC adalah keputusan The Fed,  yang diperkirakan bakal Hawkish dalam pertemuan FOMC berikutnya. 

“The Fed masih belum ada kabar sedikitpun buat cutting rate. Mereka kemungkinan bakal benar-benar berhenti naikin suku bunga, kalau ada gejolak ekonomi besar yang terjadi di Amerika seperti resesi,” ujarnya. 

Namun berbeda dengan Samuel, ia tidak melakukan posisi short karena hal tersebut dinilai hanya buang-buang waktu. Menurutnya, lebih baik meng-konstentrasikan pengumpulan dana, dan all out di satu titik antara US$ 10.000 – US$ 12.000, yang merupakan level aman. 

“Memang sih tidak ada jaminan apa ini bakalan jadi bull trap atau enggak. Tapi kan setidaknya kita sebagai investor juga pasang mata buat persiapan masuk pasar. Dilihat dulu situasinya udah jelas apa belum,” kata Nadia. 

Selain Nadia, seorang trader kripto asal Surabaya Henry, juga mengatakan bahwa ia telah memasuki pasar dua hari sebelum laporan CPI dirilis, menggunakan leverage yang cukup besar. Dirinya mengaku, seluruh asetnya akan ditarik jika BTC mencapai level US$ 22.000 – US$ 23.000.

“Di Twitter, saya melihat banyak centang biru dari luar negeri yang mengompori followernya untuk mulai beli Bitcoin. Lucunya, banyak dari mereka yang mendukung, dan tepat seperti dugaan saya, BTC naik. Apalagi beberapa hari kemarin whale yang borong 20.000 BTC. Sekarang kalau dihitung pun saya udah untung sih meskipun kecil,” paparnya. 

Kendati demikian, Henry juga menyebut bahwa aset kripto ini bakal menemui titik terang antara tahun 2024-2025. Hal inilah, yang menurutnya sangat pas untuk memasang posisi long, baik di BTC maupun altcoin. 

“Rahasia umum sebenarnya kalau trading di kripto itu ngeri-ngeri sedap. Tapi saya punya keyakinan tersendiri, kalau BTC ini adalah keuangan masa depan, karena aset ini adalah bukti nyata dari perkembangan teknologi. Dan teknologi tidak akan pernah berhenti,” pungkas Henry. 

Muhammad Syofri

Trader Forex dan Bitcoin yang sudah bergelut di bidang trading dari tahun 2013. Sering menulis artikel tentang blockchain, forex dan cryptocurrency.