Cryptoharian – Harga Solana (SOL) masih belum kembali menyentuh level US$ 180 sejak akhir Mei, menimbulkan keraguan di kalangan investor apakah reli bullish di tahun 2025 masih realistis. Salah satu indikator kekhawatiran ini terlihat dari menurunnya permintaan untuk posisi long di pasar derivatif.
Melansir dari cointelegraph.com, bahkan pada awal pekan ini tingkat pendanaan (funding rate) untuk kontrak berjangka SOL turun ke wilayah negatif, sebuah sinyal bahwa tekanan jual kini mendominasi pasar.
Kompetisi Layer-2 Kian Menekan
Banyak analis menilai posisi kompetitif Solana kini mulai tergerus, terutama karena ekspansi pesat ekosistem Layer-2 milik Ethereum. Meski begitu, Solana tetap memiliki keunggulan dalam hal pengalaman pengguna yang lebih terintegrasi.
Setelah euforia koin meme mereda, adopsi baru mulai bermunculan. Salah satunya adalah Jito, aplikasi terdesentralisasi (dApp) terbesar di Solana saat ini, yang mencatat total value locked (TVL) sebesar 17,92 juta SOL, naik 12 persen Januari. Jito menawarkan staking menawarkan staking berbasis MEV (maximum extractable value) serta layanan DeFi terintegrasi.
Selain itu, rasio staking SOL mencapai 66,5 persen jauh lebih tinggi dibanding Ethereum (kurang dari 30 persen) dan Cardano (58 persen). Dengan imbal hasil tahunan sebesar 7,3 persen staking SOL tetap menjadi pilihan menarik bagi investor jangka panjang.
Pendapatan Solana Lampaui Ethereum dan Tron di Q2
Solana mencetak rekor baru di kuartal kedua 2025, memimpin pendapatan jaringan blockchain global untuk tiga kuartal berturut-turut. Menurut data dari SolanaFloor, Solana menghasilkan US$ 271,8 juta dalam pendapatan, 64 persen lebih tinggi dari Tron dan lebih dari dua kali lipat pendapatan Ethereum yang tercatat sebesar US$ 129,1 juta.
Selama 30 hari terakhir, pengguna Solana membayar US$ 460 juta dalam biaya jaringan. Meskipun masih ada kritik mengenai transaksi gagal dan tingginya konsentrasi aktivitas, hal ini lebih mencerminkan desain arsitektural Solana, bukan cacat struktural dan masih bisa dioptimalkan.
Faktanya, jaringan membukukan US$ 62,6 juta dalam biaya pada bulan Juni, angka yang terlalu besar jika hanya didorong oleh aktivitas bot semata.
Baca Juga: 5 Kripto Besar Potensial Pekan Ini: BTC, ETH, XRP, SOL, SHIB
Hambatan dari Institusi
Sinyal kekhawatiran juga datang dari institusi besar. CEO Robinhood, Vlad Tenet, mengungkapkan bahwa mereka tidak membangun di atas Solana karena masalah MEV dan kurangnya kontrol terhadap validator. Baik Robinhood maupun Coinbase lebih memilih membangun Layer-2 sendiri dengan kontrol penuh atas urutan transaksi.
Jika kecenderungan ini terus berulang, maka peluang adopsi institusional terhadap Solana bisa terbatas. Dalam konteks ini, semakin jelas mengapa minat untuk posisi long di SOL mulai menurun di pasar derivatif.
Persaingan dengan Ethereum juga semakin ketat, terutama karena Ethereum menawarkan biaya data yang sangat rendah kepada rollup, strategi yang secara tidak langsung menekan pemain seperti Solana.
SOL Sulit Tembus US$ 180?
Dengan lemahnya permintaan leverage, belum pulihnya sentimen pasar dan minimnya dukungan dari institusi besar, peluang SOL untuk kembali ke level US$ 180 dalam waktu dekat tampak kecil. Meski fundamental jaringan masih kuat, faktor eksternal seperti agresif Ethereum dan prefensi institusi terhadap kontrol penuh menjadi tantangan besar.
Untuk saat ini, investor SOL perlu memperhatikan dua hal, apakah Ethereum dan mempertahankan modal harga predatori-nya, dan apakah Solana bisa menarik lebih banyak proyek dan pengguna berkualitas tanpa harus bergantung pada hype koin meme.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Cryptoharian tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.


