Fiat Mati, Warga Ukraina Beralih ke Cryptocurrency

Konflik bersenjata antara Ukraina dan Rusia membawa pengaruh pada crypto. Transaksi di Ukraina beralih ke cryptocurrency, bahkan donasi berdatangan dalam bentuk Bitcoin, Ethereum, USDT dan crypto lainnya. 

Hal ini terjadi karena bank sentral Ukraina membatasi transaksi menggunakan fiat selama konflik berlangsung.

Menurut pernyataan bank, akses ke valuta asing dan penarikan tunai telah dibatasi. Pembatasan ini membawa dampak buruk terhadap kehidupan di Ukraina, sehingga mendorong sejumlah warga untuk beralih menggunakan cryptocurrency. 

Peralihan tersebut membuat Kuna, crypto lokal, melonjak. CEO Kuna, Michael Chobanian pun percaya bahwa sistem perbankan dan fiat tengah anjlok saat ini. “Mayoritas orang tidak memiliki pilihan lain selain crypto,” ucap Chobanian.

Menariknya, peralihan tidak hanya terjadi untuk transaksi sehari-hari tapi juga datang dalam bentuk donasi ke LSM Ukraina. Berdasarkan platform penggalangan dana lokal, Ukraina telah menerima sebanyak $7 juta dalam bentuk cryptocurrency sejak awal minggu perang terjadi.

Lonjakan donasi terjadi berkat perdana menteri Ukraina membagikan alamat Bitcoin dan Ethereum melalui profil Twitter miliknya. Pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, sempat mengira bahwa akun Twitter tersebut telah diretas tapi juru bicara negara mengonfirmasi bahwa akun itu aman.

Baca Juga: Prediksi Harga 28 Februari Untuk AVAX, TRX dan MANA: Teknikal Analisis

Baca Juga: 13 Situs Mining Bitcoin Gratis Tanpa Deposit 2022 + BUKTI [Updated]

Perusahaan analitik blockchain mengatakan, “aset crypto seperti Bitcoin juga telah muncul sebagai metode pendanaan alternatif yang penting.. crypto memungkinkan sumbangan cepat lintas batas yang mungkin akan diblokir jika melewati lembaga keuangan ke kelompok-kelompok ini.”

CEO FTX, Bankman-Fried, melihat dua peluang untuk Bitcoin berdasarkan bagaimana para trader biasa melakukan trading.

Melalui Twitter, Bankman-Fried menjelaskan pertama, Bitcoin bisa didominasi oleh investor yang fokus pada fundamental – di mana mereka akan tetap membeli Bitcoin meski di tengah kepanikan.

Kedua, sebaliknya, di mana investor tidak begitu percaya dengan kinerja Bitcoin – mereka percaya ini adalah aset berisiko yang berkorelasi dengan pasar saham sehingga buru-buru menjual Bitcoin di tengah perang.

Dari analisa itu, eksekutif crypto ini beranggapan bahwa Bitcoin berada pada rezim yang baru dalam satu setengah tahun terakhir, meski perang selalu memberi dampak negatif terutama bagi kubu yang berkonflik.

Senada dengan CEO FTX, CEO Crypto Quant, Ki-Young Ju, berpendapat bahwa investor institusi membeli Bitcoin langsung dari pasar dan tidak berniat menjualnya. Sementara investor yang menggunakan bot algoritma seperti menangani saham dengan teknologi crypto.

Ikuti kami di Facebook | Telegram | Instagram | Youtube

Penggemar Cryptocurrency dan Mengembangkan Bisnis di Internet dan Percaya Bahwa Informasi Harus Disebarluaskan Secara Transparan. Tidur, Makan dan Tulis